Kamis, 27 Oktober 2016

Thailand Trip 2013


Cintaku,
Berkeliling dunia adalah cita-cita Mama. Papa juga pingin. Dan sekarang kalian juga mulai kami 'racuni' hahaha.. iyalah, kan asyik jalan-jalan bareng, belajar dari semua sudut semesta ini, mencicipi makanannya, melihat keelokan ciptaanNya, bersahabat dengan orang-orang dari berbagai negara..
Tahun 2012 kalau nggak salah, Mama menulis daftar panjaaang negara yang Mama ingin kunjungi, dan sekaligus foto-fotonya, biar kebayang di mimpi.. trus jadi kenyataan.. la la la.. *berkhayal*
Eh tapi beneran! Semesta tidak mau berhutang janji terlalu lama *tsaaah Mama kumat puitisasinya*, tahun 2013 ini Mama dikirim berangkat ke Thailand. Agendanya untuk mewakili Fakultas pertemuan di Payap University Chiang Mai, trus lanjut ke Bangkok untuk networking. Widih bahasanya susah.. intinya cyint, cari kenalan dari kampus lain biar ada kerjasama. Gitu lah..
Naah berikut ceritanya.. 
Ini anak Dewa Gajah, cyint.. kan kalau di Thai itu banyak yang Budha, dedewaan juga masih dihormati. Ini di airportnya
Ini pertemuannya yang Mama tadi bilang network ituh.. intinya berkenalan dengan orang-orang baik ini, dan kalau ada kesempatan lain bisa minta uang untuk kampus Mama biar tambah bagus dan kereen..

sebenernya Mama pingin foto sama petikan ayat Alkitab di belakang Mama itu, yang intinya.. masing-masing dari kita adalah Anggota Tubuh Kristus. Amiin...  

sepulang dari rapat, Mama nyobain naik tuk tuk, ini mah mirip bajaj di Jakarta ya, cuma kanan kiri gak ada tutup.. siliir banget.. btw bapak sopir tuktuk kok tersiksa banget kayaknya yaa sementara Mama big smileeee... :D

Naaah di sini nih Mama beli oleh-oleh baju gajah warna putih untuk kalian.. eh Papa dioleh-olehin apa yaa.. lupa deh hehehe maap Pa.. besok beli bareng aja deh di mari.. ini Night Market di Chiang Mai. Belakang Mama itu orang pada pijet.. enaak kayanya ya

Naah my dear, sayangku cintaku hidupku, ini cerita Mama tentang apa yang terjadi di 2013.. oiyaaa di tahun ini, Bude Rustikah mulai bergabung dengan skuadron Ndalem Mbakalan 85B sebagai nanny mu, setelah mbak ini mbak itu mbak anu (Mama sampai lupa lho) datang dan pergi karena belum jodoh... Bude Rus ini dulunya momong Samuel, anak tetangga sebelah yang Mamanya juga namanya Silvi, tapi bu Pendeta. Jodoh banget emang si bude ini sama bu Silvi :D.. sampai sekarang (udah hampir 4 tahun!) bude masih setia bareng kita. Semoga besok pas kalian mulai baca diari ini, Bude masih bareng kita juga.. amiin..

Uuupss sudah jadm 5! Awalnya Mama berencana fitnes lho. Tapi karena Papamu nemu blog ini dan terharu, minta Mama nulis lagi sebagai catetan diari untuk kalian, dan Mama juga ikutan semangat, agenda fitnes kita geseerrr.... *alasan* okaay cintaaa Mama mau pulang dulu yaa.. sampai ketemu di rumah setelah kalian pulang ballet (yang terakhir).. cium peluk muaaah..

Ada Apa Di tahun 2013...


Du du duu..
 
Tahun 2013 itu kalian masuk TK kecil.. kalian senang karena sudah naik level.. tahun ini, Papa menghadiahi Mama mobil city car putih (menghadiahi itu kata yang keren. Sebenernya, mbayarin uang muka. Sisanya Mama yang nyicil angsurannya lima tahun *peluk Papa* tetep keren kok Pa..). Kalian seneng banget karena antar atau jemput sekolah sudah nggak kepanasan kehujanan. Mama dong, masih keringetan dingin aja kalau nyetir. Tapi, melihat semangatmu 'Yaay Mama bisa nyetir!!' Mama pun makin semangat nyetir ke mana-mana.. Tahun ini, Mama juga pertama kalinya ke luar negeri, dikirim kampus ke Thailand. Kalian Mama oleh-olehin baju putih gambar gajah yang ada kantongnya.. (sekarang bajunya ke mana ya itu..). Tahun ini.. kalian ultah ke 4 dirayain di TK Ceria sambil potong kuenya..

Naah ini foto dari masa itu.. waktu kalian 4 tahun. Hahaha pose Papa.. inget nggak? Beberapa minggu sekali kita main ke Graha Sabha Pramana UGM kalau hari Minggu pagi.. senam, jogging, berjemur, bermain.. pokoknya seseruan setelah itu makan soto depan kuburan Terban. Soto itu, by the way, langganannya Papa Mama sejak pacaran tahun 2002 lho. Historical place banget deh..
Pagi itu kita dari rumah memang bawa bola plastik untuk main lempar-lemparan. Setelah puas, kalian main pasir deh.. Nah gak mau ketinggalan nih, si Papa ikut aja ngejongkrok main pasir.. ingetin Mama untuk kasih obat cacing ke Papa juga ya :D






Tahun ini, kalian mulai ikut ballet di Bailamos Dance School. Sebenarnya ini tahun di mana Mama Papa mencari kesukaanmu apa sih... waktu itu pas banget Bailamos buka pendaftaran siswa baru untuk usia 4 tahun up, dan kalian pas suka nonton Angelina Ballerina (Tikus yang suka ballet itu loh). Jadilah kalian masuk ke Baby class..kalian ikutnya tiap hari Senin dan Kamis, jam 15.00 - 15.45. Seru lho.. kita pernah ujan-ujanan habis ballet kan, cyint.. pas itu Mama belum dikado mobil. Kita basah ria bareng mbak Wiwik yang sekarang sudah nikah.. pernah juga, pas mbak Wiwik pulang kampung dan Mama harus ngajar sampai jam 14 (kayaknya Papa pas proyek luar kota), kalian pulang sekolah TK lanjut day care Ceria trus Mama jemput ke Ceria, lanjut ballet... penuh cerita deh perjalanan les ballet ini..
Di saat Mama menceritakan ini, kalian baru ballet (ini hari Kamis). Dan...

...ini les ballet kalian yang terakhir. Kalian akhirnya memilih untuk menekuni dansa latin nya dan pensiun balletnya. Mama berusaha untuk nggak mellow.. karena ini kan keputusan kalian (kalian sekarang sudah 7 tahun, by the way! Big girls!)...Nanti ketika usia kalian bertambah, 8, 9, 10 tahun dan seterusnya, kalian akan semakin mandiri dan memutuskan hal apa yang kalian sukai atau tekuni.. tenang saja cintaku, karena kami selalu mendukung keputusanmu. Sambil kalian terus bertumbuh, kenanglah bahwa kalian juga pernah unyuuuuuu seperti ini! Emmmhhhh gemeesshh...

graow.... belagak macan...

...sharing secret alias berbagi rahasia..

Angels' smile! Duh melting Mamaaaaa

weeewww ini gigikuu... oiya gigi itu sudah pada tanggal loh, sekarang gigi besaaarr..

Cintaku, tahun 2013 kita makin takjub dengan perubahanmu yang mempesona. Mulai lebih cerewet.. mulai suka ini itu... Tahun ini, Mama juga mulai merasakan ada yang nggak beres dengan perut Mama. Bukan, bukan tambah besar alias ndud *ini mah biasa*.. tapi haid Mama bermasalah. Eh kenapa Mama bilang ini? Yup.. karena nanti ada kaitan dengan tahun setelahnya.. bagaimana kita berproses..

Cintaku, kalian menakjubkan selalu! Ingat ya, seberapapun Mama sok galak, Mama itu cintanya ke kalian poool pool an...

Oh No.... Empat Tahun Berlalu!

Oh noo... waktu berlari seperti cheetah, menyambar seperti kilat, terbang seperti manuk emprit kehujanan.. (eh ngeyup atau terbang terburu-buru sih seharusnya)..
dari entry blog terakhir tahun 2012, itu waktu Mama sibuk berkutat menepati janji, menyelesaikan Magister Ilmu Kedokteran Tropis.. akhirnya selesai lalu wisuda tahun 2013 awal.. nah setelah itu Mama merasa tergerus waktu (cieh puitis). Merasa kehabisan waktu dan ndak sempat menceritakan hari-hari kalian, hari-hari Mama Papa bersama kalian.. sediih sediih.. bisa ndak waktu diputar kembali? Beli koinnya di mana? Andaikan semudah permainan komidi putar..

Tenang.. tenang.. (tarik nafas panjang -beneran)...
Mama masih punya banyak waktu untuk menceritakan semuanya, girls. Toh Mama masih sehat dan bisa mengingat semuanya. Du du du mari kita ingat peristiwa-peristiwa dari 2013 sampai 2016 ya.. bersamamu, bersama Papa... baca entry berikutnya yaaa... oiya, Mama akan flashback sambil Mama sisipin cerita bayi-bayi kalian, dan kemellow an Mama...
Mencintaimuuuu mencintaimuuu selaluu..

Minggu, 01 April 2012

Flashback Series (1) Kelahiran SteSha

Yahuiii... akhirnya..akhirnya.. kelahiran ini masuk ke 40 minggu. Sejak 4 minggu yang lalu, Mama sudah siap kalau sewaktu-waktu kalian lahir loh. Tas untuk ke RS sudah ter pak dengan rapi sejak satu setengah bulan lalu, peralatan kalian juga sudah siap.. kamar sudah didekor warna kuning dengan tempelan unyu-unyu..
Masuk ke 37 minggu tanpa ada tanda-tanda, Mama mulai rajin senam hamil di Panti Rapih, jalan-jalan mengelilingi Jogja dengan perut besar, sampai di rumah senam hamil sendiri, jongkok berdiri ngeden-ngeden.. tidak ada yang terjadi =D
Masuk minggu 38, waktu kontrol ke dokter Rukmono, beliau kaget 'Welha kok belum lair ndhuk?' Hehe.. only heaven knows, doc.. di USG masih baik, air ketuban cukup.. diputuskan menunggu selahirnya.
Akhirnyaa... 40 minggu pas. Di tanggal 19 Maret 2009 (HPL kalian), Papa sudah cuti dari kantor. Dan dengan semangat kami berdua kontrol ke dr Rukmono dan minta dipacu.
'Nunggu aja 2-3 hari lagi' kata dr Rukmono. Papa Mama kekeh minta hari ini juga masuk ke Kamar Bersalin untuk dipacu. Akhirnya, dr Rukmono setuju dan kami pulang minta restu Papi Mami dulu ^^

Dag dig dug.. pasti perasaan itu ada juga. Perasaan antara ingin kalian lahir dan kuatir apa yang akan terjadi bercampur baur waktu kami mampir di Sate Samirono untuk menghimpun kekuatan. Papa dan Mama ngobrol ini itu... nggak sabar.. tapi juga pasrah.

Sampai di Kamar Bersalin Sarjito, Mama segera disiapkan untuk dipacu secara mekanis. Selang kateter akan dimasukkan ke mulut rahim Mama lalu dikembungkan dan ditarik secara pasif oleh botol infus supaya mulut rahim membuka. Satu jam lebih dr Rukmono berkutat dengan mulut rahim Mama yang ternyata posisinya extraordinary. Papa menunggui Mama, memegang tangan Mama, dan tiba-tiba Papa menitikkan air mata.
"Perjuanganmu, Nda.. perjuanganmu.. Kuat ya," bisiknya terharu. Tangan dr Rukmono sudah penuh darah dan Mama mulai tidak nyaman. Akhirnya selang kateter gagal terpasang dan Mama diberi obat untuk memacu. Kami pun memulai penantian (dan piknik) panjang di Rumah Sakit. Hari itu hari Jumat sore.

Dosis obat perlahan-lahan dinaikkan karena tanda kontraksi belum Mama rasakan sama sekali. Mama udah nungging-nungging lho di Kamar Bersalin. Naik turun tangga juga.. tapi tetep aja. Kepala kalian masih jauh di atas. Satu hari lagi berlalu.. hari itu hari Sabtu..

Mama di NST (Non Stress Test) untuk memantau kekuatan kontraksi Mama. Paling kuat ternyata sekitar 5.. belum cukup untuk bisa membuka mulut rahim sehingga proses kehamilan bisa terjadi. USG mengatakan, kondisi masih baik. Dosis obat yang diminum sudah maksimal sehingga Mama diinfus. Tetesan dinaikkan sesuai aturan untuk memacu kelahiran. Hari ini hari Minggu, Mama pengen ke Gereja sebenernya tapi karena infus sudah terpasang, Mama dan Papa malah foto-fotoan aja di Kamar Bersalin sambil nyanyi-nyanyi.. saat itu kontraksi mulai terjadi. Mama senang! Kenceng, semakin kenceng, semakin kenceng.. tapi kok nggak sakit ya? Perut Mama sudah seperti papan, tapi Mama sama sekali nggak berasa sakit. Saat itu mulai mengalirlah air ketuban, rembes. Minggu, lewat 2 hari sejak HPL kalian..

Seninnya, berlalu cepat sekali. Pagi sampai sore, dosis obat infus maksimal tapi tidak ada kontraksi terjadi. Sore ketuban Mama semakin banyak rembesnya, dan dr Rukmono memeriksa CRP nya sebagai tanda infeksi. Dan benar, infeksi mulai terjadi karena Mama sudah rembes sejak kemarin. Malam itu diputuskan, besok pagi Mama akan dilakukan operasi sectio cesaria emergensi. Mama menangis.
"Kok akhirnya operasi, yah? Bunda pengen lahirkan normal" Papa hanya memeluk Mama.
"Alam menghendaki demikian, Nda, kita pasrah dan siap aja menjalaninya"
Dr Rukmono memberi Mama obat penenang dosis rendah supaya Mama bisa istirahat malamnya, dan mempersiapkan ini itunya. Mama mulai puasa juga. Malam itu, mungkin akibat kelelahan, kelegaan, efek obat, doa dan pasrah, Mama tidur nyenyak sekali..

Paginya. Hari inilah harinya. Direncanakan awal bahwa Mama akan dioperasi jam 07.00. Ternyata dr Rukmono harus bersiap-siap dulu dan operasi Mama diundur jam 10.00. Menjelang jamnya, Mama dikabari bahwa operasi diundur karena ada kecelakaan dan membutuhkan kamar operasi segera. Mama harus sabar menunggu sampai jam 14.00. Mama mulai lemas dan emosi karena lapar. Untungnya Mama boleh minum setengah gelas susu cokelat. Lumayaan banget untuk tombo laper. Jam 15.00 operasi emergensi pasien kecelakaan baru selesai, dan Mama mulai disiapkan. Jam 17.00 Mama telentang di meja operasi seperti sarden.. siap menyongsong kalian...

Detik detik berlalu. Mama dibius, tim operasi berdoa, sayatan pertama dilakukan.. sampai akhirnya membelah rahim Mama, air ketuban mengalir keluar dan dr Rukmono memberi instruksi cepat.. dorong, ambil, yak, tarik..
OAAAA... satu lahir.. Stella. Mama merinding. Dr Rukmono mulai instruksi berikutnya. Dan..
OAAAA...Trisha, selamat datang.. Mama menangis..


Stella, Trisha, malaikat kami
Selamat datang..
Tangisan kalian sekeras yang kami bayangkan
Tendangan kalian sekuat yang kami bayangkan
Cantik kalian..
jauh jauh lebih dari apa yang kami harapkan..
Terimakasih ya, sudah mengisi pelukan kami..
Ayah dan Bunda siap belajar.. tanpa henti

Mencintaimu.. mencintaimu..

Tiga Tahun Sudah!


WOW!
Ada dua wow pagi ini. WOW yang pertama, Mama tadi lupa email dan password untuk masuk ke Blog ini, sampai Mama mau nangis. Akhirnya dengan penenangan diri, Mama akhirnya ingat lagi hehe.. #penting lho ya :p
Dan WOW yang kedua...

Gals, kalian sudah TIGA tahun!
Betapa waktu cepat sekali berlalu. Mama pun belum selesai menceritakan saat kalian pertama lahir ke dunia ini, bagaimana Mama beradaptasi menyusui kalian berdua, baby blues yang merontokkan tulang, hari-hari tanpa pembantu sampai kalian usia 6 bulan, masa pemberian makanan tambahan yang penuh persiapan dan idealisme Mama (semua alami, tanpa makanan instan), bagaimana kalian dengan kooperatif menyesuaikan diri dengan Mama yang panic, betapa Mama yang idealis berupaya berdamai dengan hal-hal spontan yang di luar perkiraan Mama.. betapa Papa kalian sangat supportif bahkan ketika Papa sedang di Jakarta.. Betapa Uti dan Akung Papi Mami membantu Mama merawat kalian.. Betapa mbak War dan Mak e meyakinkan Mama untuk berani pindah rumah ke Jakal waktu usia kalian 9 bulan..
Setelah kita pindah rumah ke Jakal, semakin penuhlah usaha kita menyesuaikan sebagai keluarga, apalagi tahun 2010 Papa pindah ke Jogja. Setiap hari kita berpelukan..
Kalian mulai merangkak, merayap di dinding (kok kayak cecak ya nak ..), dan akhirnya.. jalan! Setelah kalian mulai jalan, selanjutnya terasa cepat sekali. Gigi kalian tumbuh, kalian mulai belajar bicara.. dan sekarang tahu-tahu kalian sudah 3 tahun..

Menjadi gadis kecil manis yang pintar, penurut, penuh inisiatif, kreatif, bebas, sehat, dan berkali-kali membuat Mama dan Papa takjub dan jatuh cinta berkali-kali. Sekarang pun Mama menulis entry ini sambil mendengarkan celoteh kalian di ruang sebelah, menceritakan teman-teman di sekolah, mbak Ella dan mas Natan yang juga kembar, kalian berbagi mainan, bermain dengan Mak Sumilah yang walaupun polos desa tapi sangat pintar mengadaptasi kalian..

Nanti nak, Mama akan menceritakan detil dan perlahan tentang bagaimana kalian lahir, proses satu tahun pertama kalian, tahun kedua, lalu tahun ketiga. Tentang gigi kalian tumbuh terlambat sampai Mama kira nggak punya gigi .. cerewetnya kalian, perjuangan Mama menggembalakan kalian waktu Papa pas nggak di Jogja.. wow semuanya seperti baru terjadi kemarin, ternyata sudah 3 tahun berlalu.... Luar biasa ya nak, kita saling belajar menjadi orang tua dan anak yang saling mendukung.. walau kadang Mama marah, kalian nangis, tapi kemudian hal itu kita bicarakan secara baik dan selalu diakhiri dengan pelukan dan ciuman I love you..
Indah sekali nak, indah sekali.. Mama selalu bersyukur atas nikmat ini, mengatasi semua kenikmatan apapun di dunia ini.

Mencintaimu..mencintaimu..

Selasa, 06 Maret 2012

Mama sudah di Jogja (2)

Hai sayangku,
agak lama Mama nyambung lagi ya.. Akhir-akhir ini Mama sibuk (cie.. beneran loh). Tesis Mama semakin mendekati tenggat waktu, dan itu membuat Mama 'kemrungsung'. Maaf ya, kalau di suatu saat suatu waktu saat pikiran Mama penuh, kadang Mama bersuara keras pada kalian.. hiks.

Mama teruskan lagi ya, mengenang masa-masa penantian, pesta perayaan, kedatangan kalian. Hmm.. sudah baca postingan Mama sebelumnya kan? Yang super mellow itu? ^^ Mama juga menulis yang lain untuk kalian.. setiap menit, setiap detik, rasanya akan jadi hal yang penuh kenangan untuk Mama. Semakin dekat waktunya, Mama semakin gembira, nggak sabar, sekaligus kuatir. Terutama tentang proses kelahiran kalian. Mama pengen kalian lahir normal karena kepala kalian di bawah semua, sudah 'manggon'. Mama membayangkan, nanti Mama mengejan dua kali, dan kalian ada di pelukan Mama... setiap hari Mama menenangkan diri, bagaimana nanti cara kalian lahir? Mama ikut senam hamil, ikut hypnobirthing.. demi persiapan menyambut kalian #peluuuk...

Ini dia tulisan Mama untuk itu

Anak-anak,

Lahirlah jika waktunya sudah tiba.

Dengan alami, dengan kondisi terbaik kalian.

Berat badan yang cukup, tangisan yang luar biasa keras.

Memberitakan bahwa kalian sudah menjadi bagian semesta ini secara nyata.

Anak-anak,

Lahirlah dengan tanda yang semestinya.

Berilah kabar, lalu kalian berjalan menuju pintu,

dan keluar satu persatu.

Jika mungkin, tidak perlu dengan obat,

Atau tindakan yang memaksa kalian keluar.

Atau keluar tidak lewat jalan semestinya.

Jangan kuatir,

Aku dan kalian,

Kita akan kerja sama.

Karena kita tim yang hebat.

25/02/09

11.31

Kemudian.. apakah kalian lahirnya seperti yang Mama perkirakan?
Apakah Mama kuat mengejan?
Tunggu tulisan Mama berikutnya ya ^^ soalnya Lab Biokim FKH tempat Mama isolasi DNA dan elektroforesis ini sudah mau tutup hehe...

Love you, angels.. kalian adalah alasan terbesar Mama bangun setiap hari dengan bahagia..

Selasa, 21 Februari 2012

Mama sudah di Jogja (1)

Cintaku, akhirnya setelah usia kehamilan Mama menuju 8 bulan, Mama pamit ke semua temen Litbang, dan pulang ke Jogja, menunggu kedatangan kalian.
Di sela-sela itu, sungguh penantian yang luar biasa mendebarkan. Mama sempat menulis beberapa 'curhatan'.. dan inilah dia.

#ini edisi mellow asli loh xixixi....cateet..

Darimana ya harus kumulai? Banyak sekali yang ingin kutuangkan, karena sudah sekian lama berdesakan di otakku yang kecil ini. Dari rasa syukur, kecemasan, rasa senang, deg-degan, ingin berkeluh kesah dengan anak-anak, rasa cinta yang meluap dari hatiku, rasa rindu yang membuncah pada anak-anak dan bapaknya, ah .. banyak..

Aku sudah di Jogja untuk sepuluh hari. Selama sepuluh hari itu, aku sudah menyiapkan kamar, menata baju-baju anak-anak, jalan-jalan, ke Sardjito, cek kehamilan lagi, …

Semakin hari, hari berjumpa anak-anak semakin dekat. Ada rasa kehilangan ketika berpikir, sebentar lagi mereka akan ’terlepas’ dari tubuhku, dan menjadi pribadi yang baru. Yang merupakan komitmen seumur hidup kami untuk mendampingi mereka, menumbuhkan akar dan menguatkan sayap. Sebagai perwujudan dari janji pernikahan saat itu ”..untuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan pada kami, kami berjanji untuk menjadi orang tua yang baik, mengakomodasi mereka, menjagai mereka, mengasuh dan mengasihi mereka..”

Ya, ini ’ujian yang menyenangkan’ untuk kami.

Hari ini aku cek kehamilan lagi, berat mereka sudah naik. Dedek kiri dari 1600 jadi 1800 gram, dedek kanan (yang lebih anteng) dari 1800 jadi 2200 gram. Waduh, diam-diam endut juga kamu dedek... bedanya sekitar 400 gram an ya. Tapi karena kata dokter Rukmono gak papa, aku jadi lega. Lalu aku tadi makan siangnya jadi gila-gila an hehe..

Aku bersyukur, selama kehamilan ini, aku ditemeni Intan yang persis banget usia kehamilannya. Cuma beda satu hari!! Amazing ya :) apalagi karena dia residen obsgin, banyak kekuatiranku yang bisa dijawab olehnya. Tuhan, semua rencana Mu ini indah dan luar biasa! Kami saling menemani dan menguatkan. Karena, seperti kebanyakan ibu hamil, kami kuatir akan kondisi bayi-bayi kami –bahkan ketika seharusnya kami tidak perlu kuatir. Tapi karena keinginan memberikan yang terbaik, jadinya paranoid lah yang muncul pertama. Sebenarnya baik juga rasa kuatir ini, jadi ketika ada keabnormalan sedikit, kami sudah aware. An excuse, eh? :p

Lewat mana nanti lahiran kakak dedek?

Kemarin aku sempat takut, kuatir, bunek dengan pemikiran ini. Kalau normal, apakah aku kuat mengejan dua kali? Apakah nanti mereka baik-baik saja?

Kalau operasi, apakah memang harus operasi? Karena pemulihannya akan cukup lama.

Jujur, aku ingin mereka datang dengan alami, pelan-pelan mereka keluar dari kamar bayi selama ini, dan mengintip dunia dengan upaya mereka, supaya tidak kaget. Mereka menyesuaikan paru-parunya, lalu menarik nafas keras dan manangis keras...indah sekali..

Dulu awalnya, begitu tahu mereka kembar, aku langsung dengan mantap menunjuk operasi caesar untuk jalan mereka keluar. Karena kupikir, mereka akan saling melintang, sulit, pertimbangan plasenta yang waktu itu nampaknya dekat dengan jalan lahir, lalu alasan (yang dicari-cari) bahwa minusku tinggi :p

Tapi sejalan waktu, dengan luar biasa mereka memposisikan diri dengan baik, berbagi tempat dengan luar biasa toleran sehingga kepala mereka sama-sama di bawah, berbagi ruang kiri dan kanan dengan adil lalu perlahan satu mengalah dan kepala dedek kiri sudah lebih di bawah, plasenta sudah naik di fundus..aman. Lalu tidak ada kontraindikasi untuk minus 7 mengejan dua kali, dan berat badan mereka ’aman’. Dan opsi persalinan normal mulai terngiang dan semakin hari semakin masuk akal rasanya.

Takut? Jelas..masih ada ketakutan itu. Kekuatiran tidak mampu, apakah aku tahan sakitnya, nanti dijahit berapa dan sebagainya. Tapi..kemarin ketika di Gereja, semua itu terasa sepele sekali Mengapa aku menakutkan sesuatu di luar kuasaku? Aku pasti dikuatkan. Melawan rasa sakitnya, mengejan untuk mengeluarkan mereka, alam pasti mendukungku. Bukankah Bunda Maria juga mengalami sakit persalinan ketika melahirkan Yesus? Bukankah penderitaan Yesus jauh berlipat daripada apa yang aku akan alami? Bukankah mami dulu juga tahan dengan rasa sakit ini dan berjuang melahirkan kami? Semua pikiran itu menenangkanku. Aku rileks dan menyerahkan diriku pada semesta. Aku siap merasakan semua sensasinya, seperti dulu awal kehamilan aku berhasil sukses melewati morning sickness, dan akhir-akhir ini aku berjuang dengan nyeri pinggang dan sesak nafas karena begah. Ternyata semua tidak semengerikan yang kubayangkan dulu. Semua baik-baik saja, sejauh ini semua bisa kuadaptasi. Begitu pula dengan sakitnya besok. Kontraksi, episiotomi, disuntik, dijahit, mengejan.. aku pasti dimampukan oleh Tuhan, karena Dia yang memberi mandat padaku untuk mengasuh dua alatNya. KepercayaanNya padaku pasti diiringi pertimbangan bahwa aku mampu, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanNya. Ah, indahnya rasa percaya itu...

Dan cinta. Rasa cintaku pada kedua buah hatiku semakin besar dan semakin besar, sampai sakit rasanya hatiku karena rindu dan keinginan semuanya berjalan lancar dan baik untuk mereka. Ingin memeluk mereka, menyusui mereka sampai kenyang, memandikan, menggantikan popoknya, meninabobokkan, menemani bermain, ah... kerinduan dan rasa cinta ini bercampur jadi satu.

Akan jadi ibu yang seperti apa? Apakah aku sudah punya kualitas dan keutamaan yang aku ingin tumbuhkan di diri anak-anak? Karena aku dan ayah harus mawas diri. Nggak mungkin mengharapkan sesuatu yang baik bertumbuh pada diri mereka kalau kami sendiri belum punya. Apakah itu rasa care? Apakah itu perasaan halus pada sesama? Welas asih? Mandiri? Toleran? Peka lingkungan? Cinta seni? Tidak canggung dengan orang lain? Jujur? Adil? Beriman baik? Rajin? Menghargai orang lain? Cinta buku? Pantang menyerah? Jika kami ingin keutamaan itu ada di mereka, kami harus punya lebih dulu. Karena itulah, menjadi orang tua itu sangat menantang kami, sebuah peziarahan panjang dari pembelajaran. Tidak mudah, penuh improvisasi, kreatif, tapi menantang. Kami harus rendah hati untuk mengakui bahwa kami harus banyak belajar dari mereka maupun orang lain. Pasti bisa. Tuhan akan memampukan kami.

Tomo. Ah ya, suamiku yang luar biasa itu. Semakin kurasa, semakin aku bersyukur atas dia. Atas keputusanku menikah dengannya. Dengan apa yang dia punya, dia melengkapiku. Dan di atas semua itu, aku sangat nyaman dan sangat klik dengannya. Sepertinya kami memang ditakdirkan bersama. Dia belahan jiwaku. Klise dan dangdut sekali kedengarannya bukan? Tapi percayalah, aku sampai menangis sendiri –karena bahagia dan syukur- kalau mengingat dialah ayah anak-anakku. Dia suamiku. Dia mencintaiku. Anak-anak. Dia berusaha mewujudkan impian kami. Dia melakukan hal-hal untuk kami. Dia menepati janjinya, bahwa menikah dengannya akan menyenangkan. Dia punya selera humor yang sangat baik, dia bisa memegangku ketika aku mau lari-lari, dia tegas tapi mau menerima saran, dia teman jalan yang menakjubkan. Sampai bertumpuk-tumpuk ya ungkapanku, dan itu belum ada 1% nya dari apa yang ingin aku katakan.

Tuhan, terimakasih!

Ah, silang sengkarut ide-ide pikirku. Hasil dari sekian lama aku nggak nulis di diari. Biarlah, semua mengalir dan tertuang seperti apa adanya, seerpti aku ingin menari di tuts komputer dan itulah yang terjadi.

Cinta, karunia, anugerah, orang-orang yang kusayang, melingkupiku setiap hari sampai aku tidak berani minta lebih dari ini. I couldn’t ask for more! :)

Thanks a lot, God...

Samirono, 16 Feb 2009, 21.43 WIB