Masuk ke 37 minggu tanpa ada tanda-tanda, Mama mulai rajin senam hamil di Panti Rapih, jalan-jalan mengelilingi Jogja dengan perut besar, sampai di rumah senam hamil sendiri, jongkok berdiri ngeden-ngeden.. tidak ada yang terjadi =D
Masuk minggu 38, waktu kontrol ke dokter Rukmono, beliau kaget 'Welha kok belum lair ndhuk?' Hehe.. only heaven knows, doc.. di USG masih baik, air ketuban cukup.. diputuskan menunggu selahirnya.
Akhirnyaa... 40 minggu pas. Di tanggal 19 Maret 2009 (HPL kalian), Papa sudah cuti dari kantor. Dan dengan semangat kami berdua kontrol ke dr Rukmono dan minta dipacu.
'Nunggu aja 2-3 hari lagi' kata dr Rukmono. Papa Mama kekeh minta hari ini juga masuk ke Kamar Bersalin untuk dipacu. Akhirnya, dr Rukmono setuju dan kami pulang minta restu Papi Mami dulu ^^
Dag dig dug.. pasti perasaan itu ada juga. Perasaan antara ingin kalian lahir dan kuatir apa yang akan terjadi bercampur baur waktu kami mampir di Sate Samirono untuk menghimpun kekuatan. Papa dan Mama ngobrol ini itu... nggak sabar.. tapi juga pasrah.
Sampai di Kamar Bersalin Sarjito, Mama segera disiapkan untuk dipacu secara mekanis. Selang kateter akan dimasukkan ke mulut rahim Mama lalu dikembungkan dan ditarik secara pasif oleh botol infus supaya mulut rahim membuka. Satu jam lebih dr Rukmono berkutat dengan mulut rahim Mama yang ternyata posisinya extraordinary. Papa menunggui Mama, memegang tangan Mama, dan tiba-tiba Papa menitikkan air mata.
"Perjuanganmu, Nda.. perjuanganmu.. Kuat ya," bisiknya terharu. Tangan dr Rukmono sudah penuh darah dan Mama mulai tidak nyaman. Akhirnya selang kateter gagal terpasang dan Mama diberi obat untuk memacu. Kami pun memulai penantian (dan piknik) panjang di Rumah Sakit. Hari itu hari Jumat sore.
Dosis obat perlahan-lahan dinaikkan karena tanda kontraksi belum Mama rasakan sama sekali. Mama udah nungging-nungging lho di Kamar Bersalin. Naik turun tangga juga.. tapi tetep aja. Kepala kalian masih jauh di atas. Satu hari lagi berlalu.. hari itu hari Sabtu..
Mama di NST (Non Stress Test) untuk memantau kekuatan kontraksi Mama. Paling kuat ternyata sekitar 5.. belum cukup untuk bisa membuka mulut rahim sehingga proses kehamilan bisa terjadi. USG mengatakan, kondisi masih baik. Dosis obat yang diminum sudah maksimal sehingga Mama diinfus. Tetesan dinaikkan sesuai aturan untuk memacu kelahiran. Hari ini hari Minggu, Mama pengen ke Gereja sebenernya tapi karena infus sudah terpasang, Mama dan Papa malah foto-fotoan aja di Kamar Bersalin sambil nyanyi-nyanyi.. saat itu kontraksi mulai terjadi. Mama senang! Kenceng, semakin kenceng, semakin kenceng.. tapi kok nggak sakit ya? Perut Mama sudah seperti papan, tapi Mama sama sekali nggak berasa sakit. Saat itu mulai mengalirlah air ketuban, rembes. Minggu, lewat 2 hari sejak HPL kalian..
Seninnya, berlalu cepat sekali. Pagi sampai sore, dosis obat infus maksimal tapi tidak ada kontraksi terjadi. Sore ketuban Mama semakin banyak rembesnya, dan dr Rukmono memeriksa CRP nya sebagai tanda infeksi. Dan benar, infeksi mulai terjadi karena Mama sudah rembes sejak kemarin. Malam itu diputuskan, besok pagi Mama akan dilakukan operasi sectio cesaria emergensi. Mama menangis.
"Kok akhirnya operasi, yah? Bunda pengen lahirkan normal" Papa hanya memeluk Mama.
"Alam menghendaki demikian, Nda, kita pasrah dan siap aja menjalaninya"
Dr Rukmono memberi Mama obat penenang dosis rendah supaya Mama bisa istirahat malamnya, dan mempersiapkan ini itunya. Mama mulai puasa juga. Malam itu, mungkin akibat kelelahan, kelegaan, efek obat, doa dan pasrah, Mama tidur nyenyak sekali..
Paginya. Hari inilah harinya. Direncanakan awal bahwa Mama akan dioperasi jam 07.00. Ternyata dr Rukmono harus bersiap-siap dulu dan operasi Mama diundur jam 10.00. Menjelang jamnya, Mama dikabari bahwa operasi diundur karena ada kecelakaan dan membutuhkan kamar operasi segera. Mama harus sabar menunggu sampai jam 14.00. Mama mulai lemas dan emosi karena lapar. Untungnya Mama boleh minum setengah gelas susu cokelat. Lumayaan banget untuk tombo laper. Jam 15.00 operasi emergensi pasien kecelakaan baru selesai, dan Mama mulai disiapkan. Jam 17.00 Mama telentang di meja operasi seperti sarden.. siap menyongsong kalian...
Detik detik berlalu. Mama dibius, tim operasi berdoa, sayatan pertama dilakukan.. sampai akhirnya membelah rahim Mama, air ketuban mengalir keluar dan dr Rukmono memberi instruksi cepat.. dorong, ambil, yak, tarik..
OAAAA... satu lahir.. Stella. Mama merinding. Dr Rukmono mulai instruksi berikutnya. Dan..
OAAAA...Trisha, selamat datang.. Mama menangis..
Stella, Trisha, malaikat kamiSelamat datang..
Tangisan kalian sekeras yang kami bayangkan
Tendangan kalian sekuat yang kami bayangkan
Cantik kalian..
jauh jauh lebih dari apa yang kami harapkan..
Terimakasih ya, sudah mengisi pelukan kami..
Ayah dan Bunda siap belajar.. tanpa henti
Mencintaimu.. mencintaimu..
