Minggu, 01 April 2012

Flashback Series (1) Kelahiran SteSha

Yahuiii... akhirnya..akhirnya.. kelahiran ini masuk ke 40 minggu. Sejak 4 minggu yang lalu, Mama sudah siap kalau sewaktu-waktu kalian lahir loh. Tas untuk ke RS sudah ter pak dengan rapi sejak satu setengah bulan lalu, peralatan kalian juga sudah siap.. kamar sudah didekor warna kuning dengan tempelan unyu-unyu..
Masuk ke 37 minggu tanpa ada tanda-tanda, Mama mulai rajin senam hamil di Panti Rapih, jalan-jalan mengelilingi Jogja dengan perut besar, sampai di rumah senam hamil sendiri, jongkok berdiri ngeden-ngeden.. tidak ada yang terjadi =D
Masuk minggu 38, waktu kontrol ke dokter Rukmono, beliau kaget 'Welha kok belum lair ndhuk?' Hehe.. only heaven knows, doc.. di USG masih baik, air ketuban cukup.. diputuskan menunggu selahirnya.
Akhirnyaa... 40 minggu pas. Di tanggal 19 Maret 2009 (HPL kalian), Papa sudah cuti dari kantor. Dan dengan semangat kami berdua kontrol ke dr Rukmono dan minta dipacu.
'Nunggu aja 2-3 hari lagi' kata dr Rukmono. Papa Mama kekeh minta hari ini juga masuk ke Kamar Bersalin untuk dipacu. Akhirnya, dr Rukmono setuju dan kami pulang minta restu Papi Mami dulu ^^

Dag dig dug.. pasti perasaan itu ada juga. Perasaan antara ingin kalian lahir dan kuatir apa yang akan terjadi bercampur baur waktu kami mampir di Sate Samirono untuk menghimpun kekuatan. Papa dan Mama ngobrol ini itu... nggak sabar.. tapi juga pasrah.

Sampai di Kamar Bersalin Sarjito, Mama segera disiapkan untuk dipacu secara mekanis. Selang kateter akan dimasukkan ke mulut rahim Mama lalu dikembungkan dan ditarik secara pasif oleh botol infus supaya mulut rahim membuka. Satu jam lebih dr Rukmono berkutat dengan mulut rahim Mama yang ternyata posisinya extraordinary. Papa menunggui Mama, memegang tangan Mama, dan tiba-tiba Papa menitikkan air mata.
"Perjuanganmu, Nda.. perjuanganmu.. Kuat ya," bisiknya terharu. Tangan dr Rukmono sudah penuh darah dan Mama mulai tidak nyaman. Akhirnya selang kateter gagal terpasang dan Mama diberi obat untuk memacu. Kami pun memulai penantian (dan piknik) panjang di Rumah Sakit. Hari itu hari Jumat sore.

Dosis obat perlahan-lahan dinaikkan karena tanda kontraksi belum Mama rasakan sama sekali. Mama udah nungging-nungging lho di Kamar Bersalin. Naik turun tangga juga.. tapi tetep aja. Kepala kalian masih jauh di atas. Satu hari lagi berlalu.. hari itu hari Sabtu..

Mama di NST (Non Stress Test) untuk memantau kekuatan kontraksi Mama. Paling kuat ternyata sekitar 5.. belum cukup untuk bisa membuka mulut rahim sehingga proses kehamilan bisa terjadi. USG mengatakan, kondisi masih baik. Dosis obat yang diminum sudah maksimal sehingga Mama diinfus. Tetesan dinaikkan sesuai aturan untuk memacu kelahiran. Hari ini hari Minggu, Mama pengen ke Gereja sebenernya tapi karena infus sudah terpasang, Mama dan Papa malah foto-fotoan aja di Kamar Bersalin sambil nyanyi-nyanyi.. saat itu kontraksi mulai terjadi. Mama senang! Kenceng, semakin kenceng, semakin kenceng.. tapi kok nggak sakit ya? Perut Mama sudah seperti papan, tapi Mama sama sekali nggak berasa sakit. Saat itu mulai mengalirlah air ketuban, rembes. Minggu, lewat 2 hari sejak HPL kalian..

Seninnya, berlalu cepat sekali. Pagi sampai sore, dosis obat infus maksimal tapi tidak ada kontraksi terjadi. Sore ketuban Mama semakin banyak rembesnya, dan dr Rukmono memeriksa CRP nya sebagai tanda infeksi. Dan benar, infeksi mulai terjadi karena Mama sudah rembes sejak kemarin. Malam itu diputuskan, besok pagi Mama akan dilakukan operasi sectio cesaria emergensi. Mama menangis.
"Kok akhirnya operasi, yah? Bunda pengen lahirkan normal" Papa hanya memeluk Mama.
"Alam menghendaki demikian, Nda, kita pasrah dan siap aja menjalaninya"
Dr Rukmono memberi Mama obat penenang dosis rendah supaya Mama bisa istirahat malamnya, dan mempersiapkan ini itunya. Mama mulai puasa juga. Malam itu, mungkin akibat kelelahan, kelegaan, efek obat, doa dan pasrah, Mama tidur nyenyak sekali..

Paginya. Hari inilah harinya. Direncanakan awal bahwa Mama akan dioperasi jam 07.00. Ternyata dr Rukmono harus bersiap-siap dulu dan operasi Mama diundur jam 10.00. Menjelang jamnya, Mama dikabari bahwa operasi diundur karena ada kecelakaan dan membutuhkan kamar operasi segera. Mama harus sabar menunggu sampai jam 14.00. Mama mulai lemas dan emosi karena lapar. Untungnya Mama boleh minum setengah gelas susu cokelat. Lumayaan banget untuk tombo laper. Jam 15.00 operasi emergensi pasien kecelakaan baru selesai, dan Mama mulai disiapkan. Jam 17.00 Mama telentang di meja operasi seperti sarden.. siap menyongsong kalian...

Detik detik berlalu. Mama dibius, tim operasi berdoa, sayatan pertama dilakukan.. sampai akhirnya membelah rahim Mama, air ketuban mengalir keluar dan dr Rukmono memberi instruksi cepat.. dorong, ambil, yak, tarik..
OAAAA... satu lahir.. Stella. Mama merinding. Dr Rukmono mulai instruksi berikutnya. Dan..
OAAAA...Trisha, selamat datang.. Mama menangis..


Stella, Trisha, malaikat kami
Selamat datang..
Tangisan kalian sekeras yang kami bayangkan
Tendangan kalian sekuat yang kami bayangkan
Cantik kalian..
jauh jauh lebih dari apa yang kami harapkan..
Terimakasih ya, sudah mengisi pelukan kami..
Ayah dan Bunda siap belajar.. tanpa henti

Mencintaimu.. mencintaimu..

Tiga Tahun Sudah!


WOW!
Ada dua wow pagi ini. WOW yang pertama, Mama tadi lupa email dan password untuk masuk ke Blog ini, sampai Mama mau nangis. Akhirnya dengan penenangan diri, Mama akhirnya ingat lagi hehe.. #penting lho ya :p
Dan WOW yang kedua...

Gals, kalian sudah TIGA tahun!
Betapa waktu cepat sekali berlalu. Mama pun belum selesai menceritakan saat kalian pertama lahir ke dunia ini, bagaimana Mama beradaptasi menyusui kalian berdua, baby blues yang merontokkan tulang, hari-hari tanpa pembantu sampai kalian usia 6 bulan, masa pemberian makanan tambahan yang penuh persiapan dan idealisme Mama (semua alami, tanpa makanan instan), bagaimana kalian dengan kooperatif menyesuaikan diri dengan Mama yang panic, betapa Mama yang idealis berupaya berdamai dengan hal-hal spontan yang di luar perkiraan Mama.. betapa Papa kalian sangat supportif bahkan ketika Papa sedang di Jakarta.. Betapa Uti dan Akung Papi Mami membantu Mama merawat kalian.. Betapa mbak War dan Mak e meyakinkan Mama untuk berani pindah rumah ke Jakal waktu usia kalian 9 bulan..
Setelah kita pindah rumah ke Jakal, semakin penuhlah usaha kita menyesuaikan sebagai keluarga, apalagi tahun 2010 Papa pindah ke Jogja. Setiap hari kita berpelukan..
Kalian mulai merangkak, merayap di dinding (kok kayak cecak ya nak ..), dan akhirnya.. jalan! Setelah kalian mulai jalan, selanjutnya terasa cepat sekali. Gigi kalian tumbuh, kalian mulai belajar bicara.. dan sekarang tahu-tahu kalian sudah 3 tahun..

Menjadi gadis kecil manis yang pintar, penurut, penuh inisiatif, kreatif, bebas, sehat, dan berkali-kali membuat Mama dan Papa takjub dan jatuh cinta berkali-kali. Sekarang pun Mama menulis entry ini sambil mendengarkan celoteh kalian di ruang sebelah, menceritakan teman-teman di sekolah, mbak Ella dan mas Natan yang juga kembar, kalian berbagi mainan, bermain dengan Mak Sumilah yang walaupun polos desa tapi sangat pintar mengadaptasi kalian..

Nanti nak, Mama akan menceritakan detil dan perlahan tentang bagaimana kalian lahir, proses satu tahun pertama kalian, tahun kedua, lalu tahun ketiga. Tentang gigi kalian tumbuh terlambat sampai Mama kira nggak punya gigi .. cerewetnya kalian, perjuangan Mama menggembalakan kalian waktu Papa pas nggak di Jogja.. wow semuanya seperti baru terjadi kemarin, ternyata sudah 3 tahun berlalu.... Luar biasa ya nak, kita saling belajar menjadi orang tua dan anak yang saling mendukung.. walau kadang Mama marah, kalian nangis, tapi kemudian hal itu kita bicarakan secara baik dan selalu diakhiri dengan pelukan dan ciuman I love you..
Indah sekali nak, indah sekali.. Mama selalu bersyukur atas nikmat ini, mengatasi semua kenikmatan apapun di dunia ini.

Mencintaimu..mencintaimu..