Selasa, 21 Februari 2012

Mama sudah di Jogja (1)

Cintaku, akhirnya setelah usia kehamilan Mama menuju 8 bulan, Mama pamit ke semua temen Litbang, dan pulang ke Jogja, menunggu kedatangan kalian.
Di sela-sela itu, sungguh penantian yang luar biasa mendebarkan. Mama sempat menulis beberapa 'curhatan'.. dan inilah dia.

#ini edisi mellow asli loh xixixi....cateet..

Darimana ya harus kumulai? Banyak sekali yang ingin kutuangkan, karena sudah sekian lama berdesakan di otakku yang kecil ini. Dari rasa syukur, kecemasan, rasa senang, deg-degan, ingin berkeluh kesah dengan anak-anak, rasa cinta yang meluap dari hatiku, rasa rindu yang membuncah pada anak-anak dan bapaknya, ah .. banyak..

Aku sudah di Jogja untuk sepuluh hari. Selama sepuluh hari itu, aku sudah menyiapkan kamar, menata baju-baju anak-anak, jalan-jalan, ke Sardjito, cek kehamilan lagi, …

Semakin hari, hari berjumpa anak-anak semakin dekat. Ada rasa kehilangan ketika berpikir, sebentar lagi mereka akan ’terlepas’ dari tubuhku, dan menjadi pribadi yang baru. Yang merupakan komitmen seumur hidup kami untuk mendampingi mereka, menumbuhkan akar dan menguatkan sayap. Sebagai perwujudan dari janji pernikahan saat itu ”..untuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan pada kami, kami berjanji untuk menjadi orang tua yang baik, mengakomodasi mereka, menjagai mereka, mengasuh dan mengasihi mereka..”

Ya, ini ’ujian yang menyenangkan’ untuk kami.

Hari ini aku cek kehamilan lagi, berat mereka sudah naik. Dedek kiri dari 1600 jadi 1800 gram, dedek kanan (yang lebih anteng) dari 1800 jadi 2200 gram. Waduh, diam-diam endut juga kamu dedek... bedanya sekitar 400 gram an ya. Tapi karena kata dokter Rukmono gak papa, aku jadi lega. Lalu aku tadi makan siangnya jadi gila-gila an hehe..

Aku bersyukur, selama kehamilan ini, aku ditemeni Intan yang persis banget usia kehamilannya. Cuma beda satu hari!! Amazing ya :) apalagi karena dia residen obsgin, banyak kekuatiranku yang bisa dijawab olehnya. Tuhan, semua rencana Mu ini indah dan luar biasa! Kami saling menemani dan menguatkan. Karena, seperti kebanyakan ibu hamil, kami kuatir akan kondisi bayi-bayi kami –bahkan ketika seharusnya kami tidak perlu kuatir. Tapi karena keinginan memberikan yang terbaik, jadinya paranoid lah yang muncul pertama. Sebenarnya baik juga rasa kuatir ini, jadi ketika ada keabnormalan sedikit, kami sudah aware. An excuse, eh? :p

Lewat mana nanti lahiran kakak dedek?

Kemarin aku sempat takut, kuatir, bunek dengan pemikiran ini. Kalau normal, apakah aku kuat mengejan dua kali? Apakah nanti mereka baik-baik saja?

Kalau operasi, apakah memang harus operasi? Karena pemulihannya akan cukup lama.

Jujur, aku ingin mereka datang dengan alami, pelan-pelan mereka keluar dari kamar bayi selama ini, dan mengintip dunia dengan upaya mereka, supaya tidak kaget. Mereka menyesuaikan paru-parunya, lalu menarik nafas keras dan manangis keras...indah sekali..

Dulu awalnya, begitu tahu mereka kembar, aku langsung dengan mantap menunjuk operasi caesar untuk jalan mereka keluar. Karena kupikir, mereka akan saling melintang, sulit, pertimbangan plasenta yang waktu itu nampaknya dekat dengan jalan lahir, lalu alasan (yang dicari-cari) bahwa minusku tinggi :p

Tapi sejalan waktu, dengan luar biasa mereka memposisikan diri dengan baik, berbagi tempat dengan luar biasa toleran sehingga kepala mereka sama-sama di bawah, berbagi ruang kiri dan kanan dengan adil lalu perlahan satu mengalah dan kepala dedek kiri sudah lebih di bawah, plasenta sudah naik di fundus..aman. Lalu tidak ada kontraindikasi untuk minus 7 mengejan dua kali, dan berat badan mereka ’aman’. Dan opsi persalinan normal mulai terngiang dan semakin hari semakin masuk akal rasanya.

Takut? Jelas..masih ada ketakutan itu. Kekuatiran tidak mampu, apakah aku tahan sakitnya, nanti dijahit berapa dan sebagainya. Tapi..kemarin ketika di Gereja, semua itu terasa sepele sekali Mengapa aku menakutkan sesuatu di luar kuasaku? Aku pasti dikuatkan. Melawan rasa sakitnya, mengejan untuk mengeluarkan mereka, alam pasti mendukungku. Bukankah Bunda Maria juga mengalami sakit persalinan ketika melahirkan Yesus? Bukankah penderitaan Yesus jauh berlipat daripada apa yang aku akan alami? Bukankah mami dulu juga tahan dengan rasa sakit ini dan berjuang melahirkan kami? Semua pikiran itu menenangkanku. Aku rileks dan menyerahkan diriku pada semesta. Aku siap merasakan semua sensasinya, seperti dulu awal kehamilan aku berhasil sukses melewati morning sickness, dan akhir-akhir ini aku berjuang dengan nyeri pinggang dan sesak nafas karena begah. Ternyata semua tidak semengerikan yang kubayangkan dulu. Semua baik-baik saja, sejauh ini semua bisa kuadaptasi. Begitu pula dengan sakitnya besok. Kontraksi, episiotomi, disuntik, dijahit, mengejan.. aku pasti dimampukan oleh Tuhan, karena Dia yang memberi mandat padaku untuk mengasuh dua alatNya. KepercayaanNya padaku pasti diiringi pertimbangan bahwa aku mampu, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanNya. Ah, indahnya rasa percaya itu...

Dan cinta. Rasa cintaku pada kedua buah hatiku semakin besar dan semakin besar, sampai sakit rasanya hatiku karena rindu dan keinginan semuanya berjalan lancar dan baik untuk mereka. Ingin memeluk mereka, menyusui mereka sampai kenyang, memandikan, menggantikan popoknya, meninabobokkan, menemani bermain, ah... kerinduan dan rasa cinta ini bercampur jadi satu.

Akan jadi ibu yang seperti apa? Apakah aku sudah punya kualitas dan keutamaan yang aku ingin tumbuhkan di diri anak-anak? Karena aku dan ayah harus mawas diri. Nggak mungkin mengharapkan sesuatu yang baik bertumbuh pada diri mereka kalau kami sendiri belum punya. Apakah itu rasa care? Apakah itu perasaan halus pada sesama? Welas asih? Mandiri? Toleran? Peka lingkungan? Cinta seni? Tidak canggung dengan orang lain? Jujur? Adil? Beriman baik? Rajin? Menghargai orang lain? Cinta buku? Pantang menyerah? Jika kami ingin keutamaan itu ada di mereka, kami harus punya lebih dulu. Karena itulah, menjadi orang tua itu sangat menantang kami, sebuah peziarahan panjang dari pembelajaran. Tidak mudah, penuh improvisasi, kreatif, tapi menantang. Kami harus rendah hati untuk mengakui bahwa kami harus banyak belajar dari mereka maupun orang lain. Pasti bisa. Tuhan akan memampukan kami.

Tomo. Ah ya, suamiku yang luar biasa itu. Semakin kurasa, semakin aku bersyukur atas dia. Atas keputusanku menikah dengannya. Dengan apa yang dia punya, dia melengkapiku. Dan di atas semua itu, aku sangat nyaman dan sangat klik dengannya. Sepertinya kami memang ditakdirkan bersama. Dia belahan jiwaku. Klise dan dangdut sekali kedengarannya bukan? Tapi percayalah, aku sampai menangis sendiri –karena bahagia dan syukur- kalau mengingat dialah ayah anak-anakku. Dia suamiku. Dia mencintaiku. Anak-anak. Dia berusaha mewujudkan impian kami. Dia melakukan hal-hal untuk kami. Dia menepati janjinya, bahwa menikah dengannya akan menyenangkan. Dia punya selera humor yang sangat baik, dia bisa memegangku ketika aku mau lari-lari, dia tegas tapi mau menerima saran, dia teman jalan yang menakjubkan. Sampai bertumpuk-tumpuk ya ungkapanku, dan itu belum ada 1% nya dari apa yang ingin aku katakan.

Tuhan, terimakasih!

Ah, silang sengkarut ide-ide pikirku. Hasil dari sekian lama aku nggak nulis di diari. Biarlah, semua mengalir dan tertuang seperti apa adanya, seerpti aku ingin menari di tuts komputer dan itulah yang terjadi.

Cinta, karunia, anugerah, orang-orang yang kusayang, melingkupiku setiap hari sampai aku tidak berani minta lebih dari ini. I couldn’t ask for more! :)

Thanks a lot, God...

Samirono, 16 Feb 2009, 21.43 WIB

Senin, 20 Februari 2012

Cerita Hamil Kalian (4)

Tadaaaa kenalkan, the unyust one yang baru Mama pegang namanya Baba bear. Boneka tangan itu yang selalu dipake Papamu untuk menyapa kalian sambil mengelus-elus perut Mama. Yah, pastinya geli banget. Tapi si Papa mah nekat aja, si Baba dipake buat mbacain Bible for kids, buat nyanyi.. nah untuk urusan yang terakhir itu Mama bela-belain nyumpel Papa pake anduk. Tau sendiri Papa mau nyanyi Balonku, pake nadanya Garuda Pancasila. Ke mana-mana. Sampe jadi becandaan Papa Mama, waktu itu kan ada tuh iklan Molto, si Papa di iklan nyanyi Nina Bobo tapi nadanya ancur banget tapi si bayi tetep bobo nyenyak karena Moltonya. Nah kalo PapaMama cekikikan ngebayangin begini:
Papa: nyanyi Nina Bobo dengan nada do samadengan plisdeh
SteSha: 'okay Papa, tidak usah mengancam kami dengan lagu itu. Kami mau tidur, tapi sebagai gantinya, Papa hentikan suara itu'
Ahahahahahahahaha... love you Papa...

Kembali ke Baba. Ke mana ya dia sekarang? Hanya Baba dan Tuhan yang tau.. kayaknya waktu Mama pindahan dari Manggarai JakSel ke Jogja, Baba nyungsep deh. Hiks sedihnya.. Tapi tenang aja, cinca, sekarang PapaMama mah nggak usah pakai Baba. Kita pake Froggie si Kodok kesukaanmu aja. Sampe belepotan bubur tuh si Froggie karena ikut nyuapin kalian pas kalian 1 tahunan.

Hmm perut Mama dah tambah besar aja ya? Ini pas Mama sudah mau pulang ke Jogja, sekitar 7-8 bulan an. Sejauh ini, hal yang paling bikin Mama merana tentang perut Mama yang semakin besar hanyalah... gatelnya minta ampun. Semakin perut Mama besar, kulitnya akan teregang dan itu suangat guataall..
Cinca, Mamamu ini Ratu Kegatelan. Dalam artian, kalo gatel sedikit aja udah heboh dan si Papa sudah hafal, akan menggarukkan Mama. Mau di tangan, di kaki, di punggung, di jempol.. di mana-mana. Dulu Mama selalu minta Mami Uti nggarukin, setelah pacaran sama Papa tugas jadi pindah ke Papa. Itu sebenernya gatel manja sih, gatelnya baru reda setelah digarukin orang. Sampe temen-temen Mama pada hafal. Soalnya kalo gatelnya di kantor, ya minta garukin temen kantor dong.. hehe.. ngrepotin banget ya si Mama.. untung temen Mama semua penuh cinta.. mau aja nggarukin Mama walo sambil merepet
"Aneh banget si mbak kebiasaannya, masak gatel aja mesti digarukin orang? Xwynbv@@@##$.."
"Yak, kiri dikit, naik dikit.. that's good..." Mama merem melek. Setelah dia rampung merepet, gatelnya dah kegaruk xixixi... love you deh.. dikerjain orang hamil mau aja..
Kembali ke gatel perut ini. Sepertinya seluruh luas permukaan kulit perut Mama yang segentong ini gateeeellll semua. Orang tua bilang sih jangan digaruk, bisa item-item nanti. Kita bilangnya 'stretch mark'. Googling, cinca kalo ga ngerti artinya.. hehe..

Setiap perut tambah besar, biang gatel ini berasa. Si Papa yang lagi asyik nonton tipi, Mama buat asyik juga nggarukin perut ke mana-mana.
"Kanan yah, kiri, iyak naik, ke samping, hmm hmm turun dikit.. deket udel... naik naik ke samping.." udah kayak tukang parkir aja Mama ngabanin nya, walo kalo tukang parkir ga pake 'naik-naik' dong ya.. kecuali tukang parkir helikopter. Akhirnya si Papa sadar, ini semua perut Mama gatel.
"Kok meluas-meluas sih nda? Bukannya tadi deket udel aja?" yah si Papa nggak ngerti teori histamin. Satu digaruk, histamin di deketnya terpacu keluar deh. Makanya sebenernya betul juga kata orang tua. Kalo gatel jangan digaruk, yang ada tambah gatel. Ah, simbah pinter banget sih, belajar ilmu kedokteran pergarukan ya?
Mama menghela nafas sedih.
"Ayah, ini kan bukan mauku.." ahahahaha boong.. jelas mau Mama dong digaruk..
Papa menghela nafas panjang (ikut-ikutan).
"Baiklah, Ayah cari solusinya untuk Bunda" wow, hebat kan Papamu, sooo technical. Selalu mencari jalan keluar untuk hal-hal yang merepotkan dirinya dan yang mengganggu Mama. Love you lagi ah, Papa..

Besokan malemnya, di situasi yang sama yaitu pas kita leyeh-leyeh setelah pulang kerja, dah keliatan tu lagak Mama, garuk-garuk perut dan mule deket-deket Papa. Si Papa cerah aja mukanya. Dan dengan tampang nakal, mencari sesuatu di tasnya. Lalu.. tadaaaaaaa...
keluarlah benda yang menjadi 'jalan keluar' itu. Sikat baju yang bulunya lembut. Ahahahahahahahahaa ngakak dulu ah, Mama geli banget kalo inget. Si Papa kemudian berkata bak penjual sikat terhebat sedunia.
"Dengan sikat ini, Nda, perut Bunda nggak lecet-lecet kena kuku Ayah" dan Ayah nggak kecapaian garuk-garuk. Mama cekakakan sambil ngegelar perut, minta disikatin. Dan ternyata emang top banget rasanya. Papa nggarukin semua bidang perut Mama dengan seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Kadang gayanya sentripetal, kadang sentrifugal, kadang zig zag, kadang digambar muka babi.. eeh malah ini si Papa yang keasyikan nggaruk model baru. Mama bilang udah-udah aja di Papa masih kekeh karena belum gambar matahari, mau dibikin pola garis-garis.. whatever lah. Ya udah, Mama digarukin sampe tidur deh. Hmm.. Papamu ini bener-bener unyu ya.. #nglirik Papa yang udah tepar..
Semenjak itu, sikat andalah selalu siap di samping tipi. Setelah kalian lahir, sikat itu buat nyikat (pup di) popok kalian.. dan setelah kalian nggak pake popok, sikat itu buat sisiran Papa. Yang terakhir boong. Hmm singkatnya, sikat itu berjasa banget ya..

Itu salah satu kenangan cerita hamil kalian di masa yang semakin mendekati kalian lahir. Waktu itu, tas sudah terpacking rapi, nama panjang sudah ditemukan, surat pengunduran diri ke Litbangkes (hiks hiks) sudah tercetak, pamitan dengan dr Endang Sedyaningsih (Menteri Kesehatan saat ini, dulu bos Mama di Litbangkes) ke ruangan beliau sudah Mama lakukan... Mama dan Papa semakin excited nunggu kelahiran kalian. Tapi tunggu..tunggu.. ceritanya masih banyak seputar kehamilan. Tunggu di entry berikutnya ya cinz, karena Mama harus segera bertobat dan membaca beberapa jurnal untuk tesis ^^

I know I loved you before I meet you...

Asal Muasal Nama Stella dan Trisha ^^

Cincakuuu.. betapa unyu* nya kalian. Sejak di perut Mama Papa selalu membayangkan bakal seperti apa kalian pas lahir, waktu udah lahir kami membayangkan dengan senang seperti apa kalo dah umur setahun, dua, tiga.. sekarang kami sering berpelukan sambil membayangkan (berpelukannya itu tambahan biar kesannya romantis abis xixi #alay mode on).. seperti apa kalian waktu teens, trus punya pacar, truss...

Hmm...
Jadi inget deh cinca, mutusin nama buat kalian itu seru banget lho ceritanya ^^ pengen tau? Bener? Nggak nyesel nanti setelah tau? Hehe.. kalo nyesel nggak tanggung loh..^^

Awalnya adalah nama 'Stella'. Itu didapat karena Papa kalian yang superduper romantis-musiman (romantisnya cuma waktu pacaran doang huu..hehe piss ah Papa #ciumDikit) itu suka banget ngajak Mama liat bintang waktu malem. Pas malem telpon-telponan, pasti si Papa ngajak Mama keluar trus liat ke langit. Nanti Papa akan tunjuk satu bintang (kayaknya pernah denger idiom ini..hmm..)
"Sayang (ciecie..), liat deh bintang yang di sebelah utara, itu terang banget ya"
"Yang mana, say? (sayur..)"
"Itu yang deketnya kelip-kelip.."
"Oh iyaaa..." mellow... kemudian terdengar backsound

"...Somewhere Out There..beneath the pale moonlight..somewhere thinking of me, and loving me tonight..somewhere out there, someone's saying a prayer, and we'll be together in that big somewhere out there..
bla bla blaa wishing on the same bright star.."

Begitulah, nak. Sampai pada suatu malam yang kesekian puluh, di kepala Mama tercetus nama Stella.
"Stella ya yang"
"Hmm?"
"Iya besok anak kita namanya Stella" sambil malu-malu tutupan bantal. Papamu terdiam beberapa saat. Mungkin sangat terpana, Mama mau jadi ibu anak-anaknya (ooow to twit..)
"Sayang.." kata Papa akhirnya setelah terdiam sebulan. Eh beberapa menit saja ding.
"Iii..ya?" Mama berdebar-debar.. apa si Tomo ini gak mau jadi Bapaknya anak-anakku? Hehe
"...makasih ya..Mau jadi Ibunya anak-anakku".. ooow waktu itu seakan dunia berhenti berputar, waktu kami mengikat janji untuk saling membuahi (hus hus opo to iki).
Semenjak itu, kami memanggil unborn child dengan 'Stella' anak pertama. Bintang, anak kedua. Najwa anak ketiga. Hoshi anak keempat. Itu semua artinya 'bintang'.

Karena itu, waktu Mama hamil, kami memanggilnya dengan Stella. Tapi waktu tahu bahwa Stella nggak dateng sendiri, kami mulai mencari nama. Pertamanya mau milih antara Bintang, Najwa, atau Hoshi dengan arti senada. Tapi setelah direnungkan lagi sambil minum teh hangat (ada hubungannya, nak..) kami merasa, kalau sama-sama bintang nanti sama-sama pengen bersinar sendiri. Lalu kami mencari nama yang artinya menyambung.

"Bintang bersinar, Yah.. sparkling? Shine? Hmm gimana kalo Stella dan Shana, yah?" Mama usul pada suatu hari Minggu yang cerah, kami bergulingan di depan TV sepulang dari Gereja. Bergulingan itu maksudnya baringan di kasur, bukan nggulung-nggulung kaya bola, walo sebenernya saat itu bentuk Mama sudah serupa bola.
"Hmmm bagus aja, Nda. Papa setuju" jiaah cepet amat approvalnya. Tau gitu tadi Mama minta mobil. Loh..
Okay, lalu disepakati namanya Stella dan Shana dari kata 'shine'. Seminggu, dua minggu, kok Mama nggak sreg ya..

Pada suatu sore yang sejuk, pulang dari kantor, Mama dibonceng Papa cari makanan yang Papa lagi nyidam. Jangan lupa, Papamu itu suka nyidam lalu menularkan pada Mama. Waktu di perempatan jalan, kami berhenti karena lampu merah menyala. Tertib kan..
Tiba-tiba saja nama itu terlintas di benak Mama.
Trust. Taft. TRISHA.
Stella yang bersinar lembut bak bintang, dan Trisha yang kuat dan bisa membangkitkan keyakinan dan dipercaya, saling bergandengan untuk menjadi alat Tuhan..
Mama langsung mengguncang bahu Papa.
"TRISHA YAH!!" Papa kaget.
"Apaan nda?" Kirain Papa ada artis lewat dan Mama nyidam minta ngelus pipinya.
"Trisha, namanya adek. Stella dan Trisha. Kita singkat SteSha"
"Apa? Hmm.. cute.. bagus.. Ayah setuju" seperti biasa approvalnya cepet turun. Si Papa ini memang sangat menghargai pendapat Mama hehe..
"Setuju yah?"
"Iya, 100 persen. Okay nanti sampai rumah kita cari nama panjangnya..."
Sisa perjalanan Mama dan Papa melaluinya dengan rasa lega dan penuh sayang..
Stella dan Trisha, kami menunggumu..

Naah itulah ceritanya, cinca..
Stella, bersinarlah dengan lembut menerangi jalan kami..
Trisha, jadilah yang mendukung dengan keyakinan, kepercayaan, dan keteguhan..
dan PapaMama mendampingi kalian, sebagai Silvi dan Tomo yang sangat mencintai kalian..

*unyu: lucu, imut, nggemesin, harus dicium, digigit, dan diuyel-uyel..
(Diambil dari Kamus GeJe Mama halaman 12 :p )

Lagu untuk Papa Gundul

Gantian nulis tentang biang keroknya ah. Biang kerok yang bikin kalian ada di dunia hehe..

Biang kerok ini berjudul Leonardo Utomo, yang ganteng, baik hati, penyayang (hehe uang bulanan nambah dong yah #muah)... eh belum selesai. Tapiii usilnya minta ampun. Dulu, hobi barunya adalah bikin Mama termehek-mehek. Sekarang setelah ada kalian, hobi Papamu ini membuat kalian termehek-mehek dalam arti sebenarnya (kalo yang Mama tadi, termehek-meheknya itu artinya tercintrong-cintrong. Kalo kalian nggak paham artinya, nanti Mama pinjemin Kamus Geje -GakJelas- karangan Mama ya hehe).

Papamu ini, belum puas kalo nggodain kalian, kalian belum nangis. Misalnya nih:
"Siapa mau jalan-jalan??"
"Akuuu akuuu" kalian berteriak gembira.
"Ah, nggak jadi ah, Papa mau pergi sama Mama aja" Mama dah melotot tuh. Soalnya sebentar lagi pasti..
"Mau ikuuuttt...huuu huuu huuu" bersuara deh kalian.
Ah, kalian juga sih, cepet amat nangisnya hehe..

Hal senada seperti itu terjadinya berkalii-kali. Bahkan misalnya sudah on the way ke amusement place, Papa kalian iseng aja nggodain.
"Nggak jadi ya, Papa puter balik ya, kita pulaaang"
"Nggak mauuuuuuuu"
Dah sampe depan tempatnya nih, si Papa masih aja iseng.
"Tuuuuh Taman Pelanginya tutup. Pulang aja yaaaa"
"Nggak tutuup itu bukaaa... huwaa huwaaaa..." nangis deh.. tinggal nanti urusan Papa sama Mama di rumah itu #jitak jitak

Karena lama-lama Mama nggak tega sama kalian, kalian Mama ajarin jurus melawan keisengan Papa. Awalnya dengan bilang
"Hayo, Papa usil ya? Mbak Ate cium nih!!" trus Mbak Ate berenti nangis dan ketawa-ketawa nyium Papa. Dedek Sha dong, nggak puas nyium untuk 'menghukum' Papa. Dan tindakannya bener-bener so Mama..
"Hayo, Papa usil ya? Dek Sha JILAT nih" dan Dek Sha manjat kursi untuk menjilat pipi Papa (ewwww asin, nak?)

Sekarang, lebih gaul dong. Begitu si Papa sudah melancarkan jurus usil, Mama ajak kalian nyanyi..
"Papa Gundul eh eh eh Papa Gundul, kenapa Papa Gundul usil aje??
Kalo Papa Gundul usil-usil aje, nanti aku cium-cium aje
Kalo Papa Gundul usil-usil aje, nanti aku jilat-jilat aje.."
Pake nadanya 'Sang Kodok' yaaaa.... =D
Alhasil Papa Gundul akan tulung-tulung diserbu ciuman dan jilatan dua gadis manis. Itu belum Babon nya ikut njilat lo Pa, bisa nggak sampe rumah nanti hehe...
Yah, lumayan lah, SteSha jadi nggak nangisan lagi kalo diusilin. Paling sekarang responnya cuek semi waspada kalo digodain Papa
"Papa usil ya? Papa nggodain ya?"
Good.. that's my Gals! #jempol..

Tapi nak, berkat Papamu yang jayus (jajan teyus), sedikit aneh, dan penyayang ini, Mama sangat bahagia, dan Mama yakin kalian juga. Papamu menepati janjinya waktu dulu.
"Menikahlah denganku, pasti menyenangkan"
Dan, memiliki kalian, tertawa tiap hari, itu sudah membuat Mama percaya berkali-kali bahwa menyenangkan itu bukan sekedar janji.
Hmm.. besok kalo menikah, cari yang kayak Papa ya hehe ^^

I love you, you love me, we are happy family,
With the great big hug and kiss for me to you
Would you say you love me too...

Mama cantik...


Dimulai dari kalian kecil, kalian mandi dimandikan MamaPapa, makan disuapin, minum diminumkan, jalan ditetah.. waktu terus berjalan, sementara kami masih merasa kalian selalu bayi (our beloved babies forever), kalian sudah bertumbuh.
Dan bukan itu. Kalian mulai 'menyuapi' Mama, 'mengajari' Mama, dan memeluk Mama Papa.

Pagi ini, kalian bangun duluan. Mama akhir-akhir ini sulit sekali melek pagi. Mungkin efek hamil muda (apaaa??? Haha kiddin). Bukan, efek Mama belajar begadang. Bukan begadang untuk belajar lho hehe.. Jadinya Mama pagi merasa lunglai. Pagi ini, Mama terbangun karena kalian ngulik-ulik mata dan hidung Mama. Karena kegelian, Mama bangun. Dan nggak menyangka, morning greeting nya akan semanis ini...
"Pagi Mama, Mama cantik sekali.."
Aku merasa bermimpi, nak. Mamamu bangun tidur dan ngiler lho ini (yang terahir jelas Mama bohong).
"Ow makasih, sayang.." Sha mengulurkan tangan mengelus bordiran di daster Mama.
"Iya, Mama bajunya balu ya? Bagus sekali.."
Mama baru inget, tadi malem Mama pakai daster baru, warnanya pink, ada bordirnya. Mama merasa terang dunia Mama. Komentar kalian genuine, polos anak-anak, dan mencerahkan dunia Mama. Ste kemudian bergabung di kasur, memeluk Mama.
Pagi nak, Mama love Monday.. #peluukk...

Lihat kan? Kalian bukan lagi bayi yang disuapi. Tapi pagi ini Mama tersadar bahwa kalian menyuapi Mama dan Papa. Dengan cinta, dengan perhatian, dengan komentar tulus...
Mama berdoa, semoga semua orang diberi kesempatan merasakan momen seindah ini dalam cinta.. amin ya Tuhan, amin..

Sabtu, 18 Februari 2012

Siap Membuka Pintu Dunia

Hahahaha plis deh, Mama ngasi judul entry nya galau banget. Ini loh, sebelum Mama bergabung bobok sama kalian (sudah hampir jam 3 dini hari nih), Mama mau bilang bahwa Mama seneeeng banget, mbak Ate dan dek Sha mulai enjoy sekolah lagi.

Mulai Januari awal tahun ini kalian masuk ke PlayGrup Ceria di Demangan Baru. Di sana kalian awalnya enjoy.. sampai pada suatu hari, waktu perayaan Imlek, sekolah dengan niat baik mau memperkenalkan kebudayaan Cina, menyewa the real Barongsai ke tengah acara Imlek an itu. Waduh mainan yang bentuknya baik-baik saja aja kalian kadang merasa tidak langsung nyaman apalagi bentukan Barongsai yang gedenya sebagong dan matanya kedip-kedip itu. Seperti dugaan Mama, kalian histeris abis. Sampai selesai perayaan, kalian nangis.. Mama sampai sedih..
Besokan harinya, kalian masih sesekali keinget. Nah, kali berikutnya bener-bener deh. Mbak Ate sampe mogok sekolah dan selalu kuatir di hari sekolah Selasa Kamis Sabtu, dan selalu memulai hari dengan rengekan yang meluluhkan jiwa 'mbak Ate ga mau sekolaaaahhh' aw aw aw... darlin, Mama sedih banget.. terutama karena merasakan bahwa hal itu masih membuatmu nggak nyaman. Masalah uang sekolah yang mahal buat PapaMama nggak masalah tapi ketakutanmu itu loh yang heartbreaking..

Tadaaaaa akhirnya hari ini, mbak Ate mulai enjoy lagi.. tadi mau sekolah sama dek Sha, dan pulangnya ketawa ketiwi.. cerita ngapain aja selama di sekolah. Syukurlaaaahhh... Mama terharu banget lihat senyum dan cerita itu terbit lagi di pipi, mata, dan senyum kalian, terutama mbak Ate.

Hmm pada entry berikutnya nanti Mama ceritakan ya, bagaimana Mama belajar banyak sekali hal dengan kalian...

...waktunya memeluk kalian.... =)

Cerita Hamil Kalian (3)

Halo cintaku.. kembali Mama teruskan cerita tentang kehamilan kalian ya. Begitu kami tahu bahwa nanti bukan hanya satu Stella yang hadir tapi 'Stella and friend', Mama dan Papa memutuskan bahwa Jakarta bukan kota terindah untuk membesarkan kalian. Udaranya, airnya, polusinya, biaya hidupnya, macetnya... Mama mengusulkan supaya kita kembali lagi ke Jogja. Papa pada awalnya agak gamang karena Papa baru saja merasa nyaman di kantor dan dapat kepercayaan memegang produk spesialistis. Tapi setelah direnungkan bareng, berkali-kali, memang Jogja adalah pilihan terbaik. Ada Uti Papi Mami, ada Uti Papa Mama Simo yang kalau kangen cucu kembarnya gampang nengoknya. Akhirnya setelah mantep, Mama mantep juga untuk melepas kesempatan dan tawaran jadi PNS di Depkes Pusat. Menyesal? Tidak sama sekali, sayang... karena tujuan kami menikah bukan untuk pekerjaan dan karir pribadi tapi untuk sebuah keluarga yang utuh dan penuh berkat. Pekerjaan harus menyesuaikan dengan visi utama itu. Tapi Papa harus menunggu sekitar dua tahun baru bisa pindah Jogja, itu berarti bahwa nanti ada masanya di mana Mama dan kalian berpisah dengan Papa. Papa pulang akhir minggu untuk menengok kita. Yep, itulah keputusannya.. itulah awal yang mantap untuk kami menyambut kalian.

Oiya, waktu hamil kalian ini Mama sedang bekerja di Litbangkes Depkes bareng tante Naning, tante Irene, tante Ririn, dan mami-mami yang sangat perhatian sama bumil satu ini. Mama Papa tinggal di kontrakan daerah Manggarai, tukar guling sama Budhe Tata hehe.. soalnya awalnya kami ngontrak di Duren Sawit nak, itu lebih deket ke kantor Budhe Tata di Pulo Gadung. Dari Manggarai ke Percetakan Negara kantor Mama nggak begitu jauh. Setiap pagi, Mama dibonceng Papa sampai depan FK UI trus Mama naik jembatan penyeberangan, naik angkot ke arah Percetakan Negara. Sampai hamil besar, Mama naik turun jembatan penyeberangan. Sehat pokoknya ^^

Temen-temen Mama di Litbang lucu-lucu. Mereka ikut heboh waktu tau Mama hamil kembar dan memberi mama privilege untuk nggak melakukan hal-hal berbahaya, misalnya ekstraksi DNA. Mama mah anteng di mixing room yang mana itu area bersih dan aman. Tante Ririn dan tante Irene juga suka gigit-gigit perut Mama karena gemes hehe.. tuh kaaan.. ternyata dari kandungan pun kalian menggemaskan dan potensial digigit hehe.. #jitak Ririn Irene.
Tante Naning, budhe Yani juga suka temeni Mama cari rujak, lotis, atau makanan yang lagi dipengenin. Mereka juga perhatian banget. Pernah ni, Mama lama banget di kamar mandi karena keasyikan baca komik. Mereka gedor-gedor, kuatir kalo bumil pingsan di kamar mandi =D maap yaa.. merepotkan.. ato jangan-jangan karena mereka juga ngantri ya? Haha bisa juga..

Selama hamil ini, Mama enjoy banget jalan-jalan di Jakarta naik Busway. Karena di sana kesadaran pada kelompok rentan (salah satunya bumil) sudah tinggi. Mama selalu dapet kursi walaupun Busway sesesek apapun. Kalau nyebrang jalan, Mama juga selalu dikirim Malaikat oleh Tuhan untuk membantu nyebrang. Entah itu preman, polisi, anak Punk, pokoknya mereka nemenim Mama sampai seberang. Baik ya.. Bless you all, guys..

Hmm... pernah juga sih Mama dapet pengalaman yang agak menyebalkan. Mama naik taksi Blue Bird. Sopirnya agak ngawur tuh nyetirnya sampe Mama mual banget. Akhirnya Mama muntah deh di taksi. Reaksinya sungguh membuat Mama berang. Dia bilang
"Bu! Kalo muntah jangan di taksi dong" yeee kalo Mama boleh milih mah gak mau muntah ya kan..
"...awas jangan sampai kena kursi!!"
Mama sih memakai jaket Mama untuk menampung muntahan itu, jadi taksinya aman dari benda cair itu. Tapi Mama gonduknya itu loh yang nggak ketulungan. Akhirnya Mama masukin di Kompas tuh... dimuat deh dengan judul 'Ibu Hamil Muda di Taksi Blue Bird'. Owh sayang potongan surat pembacanya nggak Mama simpan ya ^^

Cerita seputar hamil kalian seru banget.. nanti Mama lanjut, cerita selama Mama sudah di Jogja dan menantikan kelahiran kalian hari demi hari. Nih baru aja ayam berkokok ^^ Mama baru latian melek nih cintaku, karena Mama kan hobi banget tidur awal sampai pagi. Semoga dengan nulis cerita-cerita tentang kalian, Mama jadi lebih produktif lagi kalau malem, truuuuss.. tesis Mama kelar hehehehe...

Kalian sudah tidur dari tadi dikelonin Papa.. tunggu ya, Mama menyusul dalam 5 menit ^^
Love you, girls.. you are so adorable!! #hug hug huggg

Jumat, 17 Februari 2012

Ayah Bunda atau Papa Mama?

Kalian itu yaaaa...
Mama sama Papa dulu ngajarinnya 'Ayah Bunda' loh. Tapi semenjak kalian suka liat Dora, dan Dora kan manggil orang tuanya MamaPapa, kalian jadi ikutan deh.. hehe..
Ini lagi.. kalian baru suka liat Petualangan si Bubi Beruang, dia manggilnya Ibu Ayah. Kayaknya dah mulai juga manggil Mama jadi Ibu ^^

Nggak masalah banget, dipanggil apapun. Kadang Mama, Ibu, Bunda.. asal kalian manggilnya dengan sayang seperti biasanya, Mama/Bunda/Ibu mah melting-melting aja.. Papa/Ayah/Bapak juga.. hehe..

Oiyah, ini Mama nyeritain tentang kaliannya lompat-lompat ya, antara memori sejak hamil sampai kalian besar dan kisah-kisah masa kini kalian.
Selak Mama lupa ^^

Pokoknya, ketika kalian sudah bisa baca dan browsing internet sendiri, kalian bisa baca hari demi hari kalian lewat memoar ini. Kenapa nggak Mama tulis di buku? Yaa.. kalo buku nanti bisa ilang, dimakan rayap, kalian sobek dan coret-coret (dah banyak tuh diari Mama yang rencananya Mama tulis buat kalian, yang ada disobek-sobek deh..).. hehe

Oiyah (lagi), memoar ini Mama mulai tulis di tengah-tengah tesis Mama yang entah kenapa nggak maju-maju. Karena rasanya Mama bunek, ide nulis kok nggak ada. Jadi sekalian Mama nulis tentang kalian, jadi memoar, Mama juga refreshing untuk bisa nulis tesis dengan cepet trus selesai deh Magister in Tropical Medicine nya Mama.. Habis selesai S2, Mama kembangin bisnis financial consultant Mama, trus dapet deh passive income.. tinggal jalan-jalan sama kalian dan nerusin S3 lagi. Tenang aja, kalo Mama S3 kalian harus ikut!

Huhuhu senangnya.. Mimpi MamaPapa, kalau dengan kalian di dalamnya, rasanya jadi sangat menginspirasi dan bisa dicapai! Rasa lelah fisiknya juga dengan mudah terbang begitu lihat bintang di mata kalian.. how blessed I am..

Ah, jadi nglantur ya ^^
Ini Mama posting di perpustakaan Fakultas Kedokteran loh. Maunya nerusin Bab II trus dikirimin ke pembimbing, malah jadi nerusin memoar kalian. Gapapa, yang penting ada hasilnya hehehe...

Kembali ke topik.. hmm.. apapun namanya, mau MamaPapa, AyahBunda, yang penting kalian hepi aja nak.. hehe love you more and more, day by day..

Cerita Hamil Kalian (2)


Lihat! Tuh perut Mama dah endud banget.. padahal baru jalan bulan enam. Ini pas acara ulang tahunannya Om Bamby ke Kebun Raya Bogor, kita bareng-bareng naik bis. Ada tante Hepi, om Aang, sekeluarga Budhe Warih, Budhe Tunjung, tante Astrid, dll komplit bener..
Kehamilan kalian bener-bener aman, Mama mual muntah biasa aja, nggak berlebihan. Memang sih, Mama jadi lebih sensitif sama bau-bauan misalnya asep Bajaj, bawang goreng, sabung wangi, bau menthol, dan yang paling menyedihkan, Mama jadi mual bau parfum dan minyak rambut Papa.
Alhasil Papa rela nggak pake parfum dan minyak rambut selama Mama hamil kalian.
Hmm.. Papa kalian itu jempol buanget dan so sweet abis deh. Waktu Mama mual muntah, Papa mengamati hal-hal yang memacu timbulnya rasa mual Mama, trus berusaha mengeleminasinya dari rumah. Misal tentang asep Bajaj, Papa kemudian menyediakan di semua tas Mama, minyak telon kecil yang handy dan bisa dicium-cium di jalan kalo kebetulan Mama ketemu Bajaj. Papa juga nyedian di tas Mama, permen jahe dan asem, in case Mama tiba-tiba mual. Di rumah, Papamu juga mengganti odol Mama pakai odol bayi yang nggak ada rasa mentholnya. Berkat itu, Mama berhasil melewati masa-masa mual dengan aman. Pernah juga loh, Papa kalian yang dari sononya 'jijik-an' itu ngepel in muntahan Mama. Akhirnya, Papa muntah juga sih hehe.. tapi usahanya boleh juga loh. Papa, I love you more deh #peluk..peluk..

Hmm.. masalah nyidam? Iya Mama nyidam juga sih, tapi nyidamnya mandiri. Pengennya apa ya dicari sendiri. Pernah tuh, pas di angkot Mama pengen makan terong goreng krispi. Udah deh, turun dari angkot, masuk supermarket, beli terong dan tepung krispi. Sampe di rumah, goreng sendiri, makan sendiri deh.. nyidam selesai. Papa aja nggak tau kalo Mama nyidam terong krispi.. iya kan Pa? #colekPapa
Papamu tuh lo yang nakal ga ketulungan. Tau sendiri kalo ibu hamil itu bawaannya mupeng melulu, muka pengen. Mudah terobsesi. Jadi si Papa suka banget 'mengintimidasi' Mama dengan kepinginannya Papa sendiri. Suatu hari si Papa pengen durian montong.
"Nda, gak pengen durian neh?" Mama baru baca buku.
"Nggak"
"Hmm enak loh Nda, sluurrppp.. montong Nda, montong.." Mama masih serius baca.
"Nggak, nggak pengen"
"...dagingnya tebel, wangi, empuk, hmmm..." Mama mulai ikut mbayangin.
"Hmm..." Mama mulai kepikiran duren montong..
"Enak banget, dagingnya creamy..." Mama mulai naik jiwa nyidamnya, dan tiba-tiba jadi pengeeeen banget makan durian montong.
"Arrggghhhh Nda mauuuu ayo yah sana beliiii!!!" Papa langsung sorak-sorak.
"Horee..sebentar ya, Ayah beliin"
Itu salah satu contoh keisengan Papamu. Nanti kalo Papa pengen steak, ya gitu lagi deh lagak lagunya.. Mama juga nih, nggak belajar dari pengalaman. Gampang aja diintimidasi hehe.. Gak papa, kami nyidam bareng ^^ kan Papa juga yang mbeliin ato nyariin..

Ah, kalau inget waktu itu, Mama jadi kangen..
Feelin lucky to have you both and Papa as my closest companion..

SteSha Ketawa...



Hari ini Mama beberes kamar, karena lemari baju MamaPapa sudah penuuuh banget. Mama dikasih lemari sama Uti Mami dari Samirono, dan seharian, dari pagi sampai siang, Mama wira-wiri kamar, dapur, untuk beberes baju, nyapu debu.. sementara kalian asyik nonton Barney (baru suka lagu I love you nya Barney.. Mama juga suka.. lagunya unyuu banget hehe).
Kamar kondisinya berantakan banget.. lemari besar pintunya bukaan semua, baju-baju berserak di kasur, lemari kecil Mama isi buku-buku.. dan kalian, bener-bener nggemesin!
Di sela-sela nonton Barney dan jejingkrakan, kalian sering nengokin Mama ke kamar, nggodain.. masuk ke lemari yang kosong, cilukba sama Mama, ngintip, nyolek..hiih gemes banget deh Mama.. takgigit loh hehe
Waktu liat Mama masih juga mberesin buku dan baju, mbak Ate nanya
"Mama nggak kelja?"
"Nanti nak, Mama masih beberes ini loh" Mbak Ate manggut-manggut, belagak paham.
"Aku seneng loh, Mama di lumah"
"Iya, aku juga seneng Mama kelja di lumah" dek Sha menimpali. Tangan Mama yang baru sibuk masukin baju jadi membeku di udara.
Oo..w.. Mama melting.. Mama peluk kalian. Hangatnya.. wanginya..campuran bayi dan keringet yang seger. Hasilmu jejingkrakan ini.
"I lop yu, yu lop me, we al hepi pamili.." kalian nyanyi bak Barney. Mama terharu deh.
Iya ya Nak, Mama juga seneng kerja di rumah aja sebenernya. Tapi apa boleh buat, Mama perlu kerja untuk beberapa alasan..
Yang pertama, supaya kalian ada gambaran bahwa Mama berkarir.
Yang kedua, supaya Mama semakin luas wawasannya, semakin bisa menuntun kalian melihat keluasan dunia.
Yang ketiga, karena Mama sedang menyusun karir Mama kerja di rumah. Doakan nak, Mama Papa bisa segera bebas finansial, sehingga kami juga punya waktu seluasnya bersama kalian.

Senyum kalian itu loh, yang bikin kami selalu semangat!
Dan senyum kalian itu menular!

Kamis, 16 Februari 2012

Cerita Hamil Kalian (1)


Diberi kesempatan yang amat besar untuk hamil kembar di kesempatan pertama adalah hal yang paling WOW dalam kehidupan pernikahan aku dan Papamu. Kalian nanti akan tahu, betapa perjalanan kami sampai ke pernikahan itu bukan hal yang mudah. Tenang, dear, Mama sudah menyiapkannya kok, di Kumpulan Kisah Cinta Inspiratif 'Cinta Melampaui Masa' yang diterbitkan oleh Penerbit Esensi Erlangga, judulnya 'Untung Ada Bintang', itu cerita cinta MamaPapa dan kalian loh.. #kedip peluk peluuk..
Sudah Mama simpankan untuk besok kalian baca, begitu usia kalian swit sepentin hehehe.. wow pasti akan banyak sekali yang bisa kita bagikan, dear.. Ups tapi bukan berarti Mama pengen kalian cepat besar. Pelan-pelan sajalah.. biarkan Mama juga merasakan detik demi detiknya memelukmu yang sekarang masih bayi ini (Mama bisa bayangkan, mbak Ate dan de Sha protes berat dibilang masih bayi hehehe)..

Kembali ke topik! Yep, hamil kalian itu seperti mimpi. Awalnya, waktu Mama ada di masa minggu-minggu awal, Mama sampai nggak ngeh bahwa kalian sudah ada di perut endud ini. Karena Mama berpikir, too good to be true. Masak di bulan awal Mama sudah hamil? Tapi ternyata Tuhan memberi secepat itu, matur nuwun Gusti... Mama sungguh terharu kalau inget perasaan Amazing nya..
Ada cerita konyol, nak, waktu itu. Karena Mama nggak ngeh kalian sudah ada, Mama dengan santainya ikut outbond kantor (dulu Mama masih di Litbangkes Depkes Jakarta), dan naik flying fox pula! Hmm masih ada nggak ya flying fox di usiamu besok? Itu seperti uji nyali apakah kamu fobia ketinggian atau nggak, kamu harus naik ke tangga atau pohon yang tinggi -waktu itu 30 meter- lalu dari puncak ketinggian itu, kamu akan melayang gantung dengan pengaman. Ooooww... jangan ditanya, seru banget itu!! Mama teriak kenceng banget.. uwaaaaaaaaa... meluncuuur... dan sampai bawah, Mama flek-flek #GUBRAK...
Tapi dasarnya nekat ya, sudah flek pun Mama nggak ngeh kalau kalian sudah melungker dan ikut jejingkrakan tadi. Seru ya nak? Hehe..
Beberapa minggu setelah itu, Mama baru cek lagi. Dan kali ini ngeh bener bahwa strip dua di test pack itu artinya Mama sudah hamil... Wow!

Kejutan sebenarnya bukan di test pack nya. Waktu usia kehamilan sepuluh minggu, Mama dan Papa pergi ke RS Duren Sawit untuk periksakan kamu. Lucunya ni, di hari periksa itu, siang harinya, Mama waktu makan siang nambah sampai tiga kali. Mama mikir, kemaruk amat ya? Kalo hamil mah nambahnya dua kali aja.. tapi waktu itu entah kenapa nambahnya sampai 3 kali! Firasat kali ya kalo di perut ada dua, jadi 3 kali itu untuk Mama, Stella, dan Trisha :)
Firasat berikutnya dateng waktu kami nunggu antrian dokter. Waktu kami duduk, lewatlah sepasang anak kembar cewek.
"Aww..lutuna Yah.." Mama bisik-bisik ke Papa. Papa juga gemes banget. Belum selesai gemesnya, lewatlah kembar cowok.
"Oooowww... to twiiiitt..." Mama ngiler-ngiler liat betapa kompaknya mereka itu. Kemudian Mama iseng nanya ke Papa.
"Mungkin nggak anak kita kembar?" Papa mikir sebentar.
"Nggak kayaknya Nda, dari aku nggak ada turunan. Dari Bunda ada nggak?" Mama menggeleng. Kemudian masuklah kami ke ruang periksa karena sudah dipanggil.

Namanya dokter Wid, cewek, alumni FK UGM juga. Mama dan Papa ditanya-tanya awal, standar, kemudian diminta naik bed untuk di USG. Pertama kali probe ditempelkan ke perut Mama, langsung keliatan tuh satu bayi melambai-lambai.. uuw imuut sekali. Mama heboh-heboh sama Papa. Papa udah speechless deh liat tangan dan kaki yang sudah aktif itu.
"Hmm.. itu keliatan kan? Nah saya lihat ke ovarium nya ya, ada kista atau nggak, sekalian aja diperiksa". Probe digulirkan ke kiri. Dokter Wid terdiam sejenak.
"Ada keturunan kembar?" Aku berpandangan dengan Papa.
"Nggak..," kami kompak. Dokter Wid senyum.
"Pasti ada... telusuri aja,"
"Emang kenapa dok?" Mama penasaran dong.
"...hmm.. itu, bayinya ada dua,"
Mama Papa melongo.

Kaki dan tangan itu ada dua pasang, kalian berhadapan, ya, sepertinya sengaja menyambut kami yang malam itu merasa kejatuhan durian runtuh!! Kalian melambai heboh, halo halooo... dan kami tercengang, surprais, senang, sampai merasa bahwa kabar itu nggak nyata. Setelahnya seperti mimpi. Dokter Wid minta Mama cek TORCH dan urine, Mama diambil darah, bayar, ambil obat, trus dibonceng Papa pulang.

Waktu malam, kami berpelukan dan Papa mengelus-elus perut Mama, masih saling kagum bahwa ada dua di sini. Tiap hari.. tiap hari.. kami merasa sangat bahagia, haru, dan kadang masih belum percaya bahwa kalian ada.. it was too good to be true..

Memoar untuk SteSha


Halo cintaku..
hari ini Mama benar-benar merasa kehilangan banyak waktu karena sudah lama nggak menuliskan cerita kalian hari demi hari. Kalian sudah hampir meniup lilin yang ketiga, itu berarti Mama dan Papa juga sudah hampir tiga tahun juga ditahbiskan jadi orang tua kalian.
Time is running ya dear.. kalian bertumbuh, dan itu nggak bisa dicegah. Kalian semakin pinter dan kompleks, dan kami sebagai orang tua semakin tertantang untuk belajar dan belajar.
Mama pengen kalian mengerti bahwa cinta kami itu sedemikian rumit.. karena kami harus bisa tegas, lembut, marah, peluk untuk meyakinkan kalian bahwa apa yang kalian lakukan itu baik atau tidak.. Untuk usia kalian yang sedemikian muda dan halus ini, MamaPapa berharap, lambat-laun kalian akan mengerti kedalaman, keluasan, kebesaran cinta kami, dan kami mendedikasikan kata demi kata di sini, untuk kalian..

'Love you' is always never enough to express the deepest feeling to you, dear our twin Angels..