Di sela-sela itu, sungguh penantian yang luar biasa mendebarkan. Mama sempat menulis beberapa 'curhatan'.. dan inilah dia.
#ini edisi mellow asli loh xixixi....cateet..
Darimana ya harus kumulai? Banyak sekali yang ingin kutuangkan, karena sudah sekian lama berdesakan di otakku yang kecil ini. Dari rasa syukur, kecemasan, rasa senang, deg-degan, ingin berkeluh kesah dengan anak-anak, rasa cinta yang meluap dari hatiku, rasa rindu yang membuncah pada anak-anak dan bapaknya, ah .. banyak..
Aku sudah di Jogja untuk sepuluh hari. Selama sepuluh hari itu, aku sudah menyiapkan kamar, menata baju-baju anak-anak, jalan-jalan, ke Sardjito, cek kehamilan lagi, …
Semakin hari, hari berjumpa anak-anak semakin dekat. Ada rasa kehilangan ketika berpikir, sebentar lagi mereka akan ’terlepas’ dari tubuhku, dan menjadi pribadi yang baru. Yang merupakan komitmen seumur hidup kami untuk mendampingi mereka, menumbuhkan akar dan menguatkan sayap. Sebagai perwujudan dari janji pernikahan saat itu ”..untuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan pada kami, kami berjanji untuk menjadi orang tua yang baik, mengakomodasi mereka, menjagai mereka, mengasuh dan mengasihi mereka..”
Ya, ini ’ujian yang menyenangkan’ untuk kami.
Hari ini aku cek kehamilan lagi, berat mereka sudah naik. Dedek kiri dari 1600 jadi 1800 gram, dedek kanan (yang lebih anteng) dari 1800 jadi 2200 gram. Waduh, diam-diam endut juga kamu dedek... bedanya sekitar 400 gram an ya. Tapi karena kata dokter Rukmono gak papa, aku jadi lega. Lalu aku tadi makan siangnya jadi gila-gila an hehe..
Aku bersyukur, selama kehamilan ini, aku ditemeni Intan yang persis banget usia kehamilannya. Cuma beda satu hari!! Amazing ya :) apalagi karena dia residen obsgin, banyak kekuatiranku yang bisa dijawab olehnya. Tuhan, semua rencana Mu ini indah dan luar biasa! Kami saling menemani dan menguatkan. Karena, seperti kebanyakan ibu hamil, kami kuatir akan kondisi bayi-bayi kami –bahkan ketika seharusnya kami tidak perlu kuatir. Tapi karena keinginan memberikan yang terbaik, jadinya paranoid lah yang muncul pertama. Sebenarnya baik juga rasa kuatir ini, jadi ketika ada keabnormalan sedikit, kami sudah aware. An excuse, eh? :p
Lewat mana nanti lahiran kakak dedek?
Kemarin aku sempat takut, kuatir, bunek dengan pemikiran ini. Kalau normal, apakah aku kuat mengejan dua kali? Apakah nanti mereka baik-baik saja?
Kalau operasi, apakah memang harus operasi? Karena pemulihannya akan cukup lama.
Jujur, aku ingin mereka datang dengan alami, pelan-pelan mereka keluar dari kamar bayi selama ini, dan mengintip dunia dengan upaya mereka, supaya tidak kaget. Mereka menyesuaikan paru-parunya, lalu menarik nafas keras dan manangis keras...indah sekali..
Dulu awalnya, begitu tahu mereka kembar, aku langsung dengan mantap menunjuk operasi caesar untuk jalan mereka keluar. Karena kupikir, mereka akan saling melintang, sulit, pertimbangan plasenta yang waktu itu nampaknya dekat dengan jalan lahir, lalu alasan (yang dicari-cari) bahwa minusku tinggi :p
Tapi sejalan waktu, dengan luar biasa mereka memposisikan diri dengan baik, berbagi tempat dengan luar biasa toleran sehingga kepala mereka sama-sama di bawah, berbagi ruang kiri dan kanan dengan adil lalu perlahan satu mengalah dan kepala dedek kiri sudah lebih di bawah, plasenta sudah naik di fundus..aman. Lalu tidak ada kontraindikasi untuk minus 7 mengejan dua kali, dan berat badan mereka ’aman’. Dan opsi persalinan normal mulai terngiang dan semakin hari semakin masuk akal rasanya.
Takut? Jelas..masih ada ketakutan itu. Kekuatiran tidak mampu, apakah aku tahan sakitnya, nanti dijahit berapa dan sebagainya. Tapi..kemarin ketika di Gereja, semua itu terasa sepele sekali Mengapa aku menakutkan sesuatu di luar kuasaku? Aku pasti dikuatkan. Melawan rasa sakitnya, mengejan untuk mengeluarkan mereka, alam pasti mendukungku. Bukankah Bunda Maria juga mengalami sakit persalinan ketika melahirkan Yesus? Bukankah penderitaan Yesus jauh berlipat daripada apa yang aku akan alami? Bukankah mami dulu juga tahan dengan rasa sakit ini dan berjuang melahirkan kami? Semua pikiran itu menenangkanku. Aku rileks dan menyerahkan diriku pada semesta. Aku siap merasakan semua sensasinya, seperti dulu awal kehamilan aku berhasil sukses melewati morning sickness, dan akhir-akhir ini aku berjuang dengan nyeri pinggang dan sesak nafas karena begah. Ternyata semua tidak semengerikan yang kubayangkan dulu. Semua baik-baik saja, sejauh ini semua bisa kuadaptasi. Begitu pula dengan sakitnya besok. Kontraksi, episiotomi, disuntik, dijahit, mengejan.. aku pasti dimampukan oleh Tuhan, karena Dia yang memberi mandat padaku untuk mengasuh dua alatNya. KepercayaanNya padaku pasti diiringi pertimbangan bahwa aku mampu, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanNya. Ah, indahnya rasa percaya itu...
Dan cinta. Rasa cintaku pada kedua buah hatiku semakin besar dan semakin besar, sampai sakit rasanya hatiku karena rindu dan keinginan semuanya berjalan lancar dan baik untuk mereka. Ingin memeluk mereka, menyusui mereka sampai kenyang, memandikan, menggantikan popoknya, meninabobokkan, menemani bermain, ah... kerinduan dan rasa cinta ini bercampur jadi satu.
Akan jadi ibu yang seperti apa? Apakah aku sudah punya kualitas dan keutamaan yang aku ingin tumbuhkan di diri anak-anak? Karena aku dan ayah harus mawas diri. Nggak mungkin mengharapkan sesuatu yang baik bertumbuh pada diri mereka kalau kami sendiri belum punya. Apakah itu rasa care? Apakah itu perasaan halus pada sesama? Welas asih? Mandiri? Toleran? Peka lingkungan? Cinta seni? Tidak canggung dengan orang lain? Jujur? Adil? Beriman baik? Rajin? Menghargai orang lain? Cinta buku? Pantang menyerah? Jika kami ingin keutamaan itu ada di mereka, kami harus punya lebih dulu. Karena itulah, menjadi orang tua itu sangat menantang kami, sebuah peziarahan panjang dari pembelajaran. Tidak mudah, penuh improvisasi, kreatif, tapi menantang. Kami harus rendah hati untuk mengakui bahwa kami harus banyak belajar dari mereka maupun orang lain. Pasti bisa. Tuhan akan memampukan kami.
Tomo. Ah ya, suamiku yang luar biasa itu. Semakin kurasa, semakin aku bersyukur atas dia. Atas keputusanku menikah dengannya. Dengan apa yang dia punya, dia melengkapiku. Dan di atas semua itu, aku sangat nyaman dan sangat klik dengannya. Sepertinya kami memang ditakdirkan bersama. Dia belahan jiwaku. Klise dan dangdut sekali kedengarannya bukan? Tapi percayalah, aku sampai menangis sendiri –karena bahagia dan syukur- kalau mengingat dialah ayah anak-anakku. Dia suamiku. Dia mencintaiku. Anak-anak. Dia berusaha mewujudkan impian kami. Dia melakukan hal-hal untuk kami. Dia menepati janjinya, bahwa menikah dengannya akan menyenangkan. Dia punya selera humor yang sangat baik, dia bisa memegangku ketika aku mau lari-lari, dia tegas tapi mau menerima saran, dia teman jalan yang menakjubkan. Sampai bertumpuk-tumpuk ya ungkapanku, dan itu belum ada 1% nya dari apa yang ingin aku katakan.
Tuhan, terimakasih!
Ah, silang sengkarut ide-ide pikirku. Hasil dari sekian lama aku nggak nulis di diari. Biarlah, semua mengalir dan tertuang seperti apa adanya, seerpti aku ingin menari di tuts komputer dan itulah yang terjadi.
Cinta, karunia, anugerah, orang-orang yang kusayang, melingkupiku setiap hari sampai aku tidak berani minta lebih dari ini. I couldn’t ask for more! :)
Thanks a lot, God...
Samirono, 16 Feb 2009, 21.43 WIB






